“Aku Bisa Kuliah”, Cara Alumni BCF Bantu Anak Kurang Mampu Masuk Perguruan Tinggi

Akses ke perguruan tinggi masih merupakan hal yang mewah bagi sebagian besar orang. Hal ini terlihat dengan masih banyaknya anak kurang mampu yang belum berkesempatan masuk ke perguruan tinggi.

Merespon hal tersebut, Slamet Riyadi, SIP., M.IP., yang merupakan Alumni Bakrie Graduate Fellowship (BGF) Universitas Lampung membuat program pendampingan masuk perguruan tinggi yaitu “Aku Bisa Kuliah”. Program ini bekerjasama dengan pelaksana Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

PKH sendiri adalah program perlindungan sosial yang memberikan bantuan uang tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dengan syarat dapat memenuhi kewajiban terkait pendidikan dan kesehatan. PKH, bertujuan mengurangi beban RTSM dan diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi, sehingga generasi berikutnya dapat keluar dari kemiskinan. PKH juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Program ini dikenal sebagai Program Bantuan Tunai Bersyarat. Persyaratan tersebut berupa kehadiran di fasilitas pendidikan (anak usia sekolah) maupun kehadiran di fasilitas kesehatan (anak balita dan ibu hamil).

Pada program “Aku Bisa Kuliah” ini, setiap anak yang dibina akan diarahkan agar berhasil meraih beasiswa BIDIKMISI. Sebagai langkah awal, bentuk kegiatan yang dilakukan berupa, Training Motivasi Kuliah, Post Tes dan Pre Test, Pemetaan minat dan potensi siswa, Pendampingan dan Konseling masuk Perguruan Tinggi, Evaluasi Pelaksanaan Perkuliahan. Secara khusus peran Alumni BGF pada program ini adalah memberikan motivasi, bimbingan terkait kiat sukses lulus selekasi masuk Perguruan Tinggi dan cara Hebat belajar sebagai Mahasiswa.

Tujuan program ini adalah (1) Memberikan gambaran komprehensif kepada  siswa SMA/MA/SMK kelas 12 asal KPM PKH terkait serba-serbi Pendidikan Tinggi, motivasi kuliah, pengetahuan soal beasiswa, serta kiat sukses dalam Pendidikan Tinggi. (2) Meyakinkan siswa-siswa tersebut untuk berani bermimpi dan melanjutkan pendidikan tinggi, serta menghapus image orang miskin tak mampu kuliah. (3) Memfasilitasi siswa-siswa tersebut dalam menyusun rencana dan strategi melanjutkan pendidikan tinggi. (4) Memfasilitasi pendaftaran siswa-siswa tersebut melalui jalur Beasiswa Bidik Misi, PMPAP Universitas Lampung serta Beasiswa Pemerintah Provinsi Lampung sebagaimana dukungan Kementrian Sosial RI melaui Surat Dirjend Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor: 135/LJS.JSK/01/2017 Tentang Program Bidik Misi bagi Peserta PKH tertanggal 24 Januari 2017. (5) Melakukan pemetaan siswa sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing individu.

Sasaran program ini adalah siswa kelas 12 yang merupakan anak dari penerima program PKH yang berada di 7 Kabupaten Kota diantaranya Way Kanan, Lampung Timur, Mesuji, Lampung Barat, Metro, Pesawaran, Tulang Bawang. Adapun target anak yang akan dibina sebanyak 89 anak.

READ MORE

Ir. Muh. Ichwan K., S.Hut., M.Hut., IPP Alumni Bakrie Graduate Fellowship Universitas Hasanuddin angkatan 2014

Muh. Ichwan saat ini menjabat sebagai Direktur Tim Layanan Kehutanan Masyarakat sebuah LSM yang bergerak di bidang kehutanan dan pemberdayaan masyarakat. Beberapa program pemberdayaan yang dijalankan antara lain.

 

Program Sentra Industri Rotan Berkelanjutan

 

Program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan warga 40% dan menurunkan efek rumah kaca sebesar 0.148 juta ton CO2e. Program ini diberi nama INDUSTRI ROTAN BERKELANJUTAN, yang dilaksakan dalam bentuk konsoursium yang terdiri dari empat lembaga di antaranya; Tim layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), Inisiatif, Sandec, dan Serikat Perempuan Bonehau.

 

Wilayah sasaran program ini terletak di Kecamatan Bonehau, satu dari 11 kecamatan yang berada di Kabupaten Mamuju. Kecamatan Bonehau memiliki total 9 desa dengan total luas 962,12 km2 dan berpenduduk 9.484 orang. Lokasi program ini juga berada di Pita Indikatif Perhutanan Soisal (PIAPS) area dan memiliki luas 4.000 ha dan luas meliputi hutan sekunder (80%), tanah kering (16%), dan semak belukar ( 4%).

 

Jumlah sumber daya alam di daerah ini sangat besar, terutama dari hasil hutan bukan kayu (HHBK), yaitu Rotan, sebagian besar penduduk di Kecamatan Bonehau berpenghasilan rendah (masyarakat miskin) dikategorikan dengan sekitar total pendapatan Rp 1.600.000 / bulan, berada di bawah standar upah daerah. Hal itu terjadi tidak hanya karena rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan namun juga kurangnya keterampilan masyarakat. Situasi ini semakin parah karena banyak lahan hutan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

 

Faktor-faktor berikut berkontribusi langsung terhadap program, seperti: memberikan akses legal oleh institusi Kerjasama Multi Guna (Koperasi Desa Usaha Bersama). Pembentukan kultivasi rotan kontinyu (pembibitan); berdirinya pembuatan furnitur mid-range dan kerajinan rotan; meningkatkan jumlah penerima manfaat langsung, baik dari faktor budidaya, pemanenan, pengolahan hasil produksi, pengemasan, pengembangan produk ke pasar, dan juga sekitar 500 ratus pohon di area PIAPS (forestrehabilitation). Kegiatan tersebut meliputi workshop, pelatihan, pengawasan teknis, transfer teknologi, dan studi banding sebagai bagian dari keterampilan manajemen.

 

Keseluruhan program tersebut ditujukan untuk sedikitnya 1.100 penerima manfaat langsung yang berada di 3 desa yang berbeda di daerah tangkapan air DAS Karama, yaitu Hinua, Bonehau, dan Tamalea. Kegiatan tersebut juga akan berdampak signifikan terhadap pengembangan kawasan di dekatnya, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa desa di wilayah bentang alam.

 

Sensitisasi tujuan berdasarkan program yang memakan waktu 17 bulan (Oktober 2016-Februari 2017), dan total anggaran US $ 716.071.80 yang diambil dari Dana Hibah Murni GP MCA INDONESIA WINDOW 2

 

Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Lebah Madu

Program ini bertujuan agar Terkelolanya Kawasan Zona Tradisional Berbasis Komoditi Lebah Madu Melalui Kemitraan Kehutanan seluas 400 ha. Secara administratif Desa Labuaja merupakan salah satu desa di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dengan luas wilayah 21.45 km2. Desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.186 orang dengan klasifikasi jenis kelamin 1.088 laki-laki dan 1.098 perempuan yang berada pada ketinggian 340-675 mdpl dan berjarak 32 km dari Ibukota Kabupaten. Sebagai daerah yang berada di pegunungan, masyasarakat Desa Labuaja sangat bergantung langsung terhadap pemanfaatan sumber daya hutan, sehingga mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Labuaja ialah petani dan pengiat lebah madu.

 

Pengelolaan madu dilakukan dengan perlakuan pengasapan sehingga menyebabkan terjadinya kebakaran hutan sebanyak 23 kali dalam rentang waktu lima tahun terakhir (2012-2016) pada luasan 43,6 hektar. Selain itu, jauhnya akses pemasaran dan keterampilan memasarkan produk sehingga produksi hasil olahan tergolong rendah. Hal ini diperparah penetapan hutan konservasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan luas 43.750 Ha pada tahun 2004, memasukkan Desa Labuaja dalam kawasan sehingga menimbulkan konflik pengelolaan dan pemanfaatan kawasan yang berdampak pada aktivitas masyarakat dan berkurangnya penggiat lebah madu.

 

Hal tersebut akan ditangani melalui program dengan aktoivitas percepatan terbitnya Akses Legal didorong dengan memasifkan advokasi ditingkat tapak hingga hilir, peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam mengelola madu didorong melalui pelatihan-pelatihan dan penggunaan teknologi ramah lingkungan serta adanya kesepakatan kerja sama dengan buyer. Program ini akan bermitra dengan Balai Taman Nasional Bantimurng Bulusaraung sebagai pemegang izin pengelolaan dan pemanfaatan kawasan, Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan Sulawesi (PSKL) sebagai balai percepatan Perhutanan Sosial, Pemerintah Kabupaten dan Buyer sebagai pembeli hasil produksi madu.

READ MORE

Eric Mangiri (Erick) – Alumni BGF Universitas Mulawarman tahun 2013

 

Erick adalah aktifis di LSM KALIMA dan Yayasan Awang Faroek Ishak Institute, yang didirikan oleh Gubernur Kalimatan Timur Bpk. Awang Faroek. Yayasan ini dibentuk dan dideklarasikan dengan tujuan terwujudnya Kalimantan Timur lebih maju, merata, adil dan sejahtera.

Erick mengorganisir seminar dan diskusi publik membahas isu berkembang dimasyarakat, kebijakan pemerintah daerah serta pusat yang tidak pro kepada rakyat, serta membuat tulisan kritis dibeberapa media Kalimantan Timur

Beberapa kegiatan dilingkup Propinsi Kalimatan Timur yang pernah dikerjakan :

· Revisi Perda Kaltim Nomor 3 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan,

· Rembuk Rakyat II dengan pembicara Rhenald Khasali bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informasi dan BAPPEDA Propinsi Kaltim.

· Diskusi Publik 2015 yang dengan pembicara nasional Prof. Dr. Djohermansyah Djohan, MA, Prof. Dr. Saldi Isra, SH., M.PA dan Refli Harun, SH., MH., LL.M

Erick yang sudah menyelesaikan Program Pasca Sarjana program studi Ilmu Lingkungan juga merintis usaha warnet, catering, laundry serta barbershop yang mempekerjakan belasan karyawan.

READ MORE