Building Leaders

You are here : Home Publications BCF Periodicals

Publications

Gov't Pushes Various Development Programs to Close Inequality Gap

JAKARTA - The government has continued to try to close the country's wealth gap through various economic programs in a bid to push prosperity for all, an APEC Business Advisory Council, or ABAC, official said on Thursday (15/02).

The issue was brought up by President Joko "Jokowi" Widodo during the ABAC dialogue with regional leaders at the 25th APEC Summit in Da Nang, Vietnam, said Anindya Bakrie, the president of ABAC Indonesia.

Leaders of the Asia-Pacific Economic Partnership (APEC) established ABAC in 1995.

Anindya attended the APEC Summit and applauded Jokowi's efforts to close the wealth gap through numerous development programs, such as through village funds, small and medium enterprises and the digital economy.

"President Jokowi has promoted Indonesia in his speech in front of 21 countries at the APEC Summit," Anindya said.

Despite significant growth in the global economy, inequality has been rising over the last five years, a report from charitable organization Oxfam International showed.

According to the 2018 World Inequality Report, the top 1 percent of the world's population represented 27 percent of the world's income growth in total from 1980 to 2016.

At the APEC Summit, Indonesia was heralded as one of the few countries that has made successful strides in closing its wealth gap for the past three years.

"Some of President Jokowi's basic ideas [of closing the wealth gap] will become ABAC Indonesia’s base of struggle in APEC post 2020, so an equilibrium between economic growth and fairness can be maintained for all countries in the Asia-Pacific region," Anindya said.

Anindya said the wealth gap is beginning to narrow largely due to the government's village fund program. Each village across the archipelago receives Rp 800 million ($59,110) per year. The total distributed village fund amounted to Rp 60 trillion last year.

The government has allocated Rp 120 trillion this year for its micro-credit program, known as Kredit Usaha Rakyat (KUR), higher than the Rp 106.7 trillion allocated for the program last year.

Meanwhile, the government also highlighted the development of the digital economy as it not only contributes to the country's growth but has also disrupted the economy, allowing more companies or businesses to be more innovative.

The president has also emphasized his plan to push for the development of the country's maritime sector.

Established in 1989, APEC is currently preparing a new initiative, in line with the 1994 Bogor Goals, for trade liberalization and investment by 2020.

APEC leaders established the Goals in Bogor, West Java, in 1994 to commit to open and free trade.

Source: http://jakartaglobe.id/news/govt-pushes-various-development-programs-close-inequality-gap/

Revolusi Senyap ANTV Bikin Rival Terhenyak

Bongkar pasang ANTV dan tvOne membuat figur Anindya Novyan Bakrie menjadi paham betul denyut nadi bisnis media elektronik televisi. Diwarisi perusahaan yang nyaris bangkrut seperti ANTV, tidaklah membuat pria jebolan Stanford Graduate School of Business ini kecil hati meski ketika itu ia minim pengalaman.

Untuk membenahi ANTV dan tvOne, ia menggandeng dua kolega yang menjadi mitra bisnisnya, yakni Erick Thohir dan Otis Hahijary. The Three Musketeers inilah yang menggodok strategi agar dua stasiun teve itu bangkit dari keterpurukan. Dalam percakapan dengan wartawan majalah Warta Ekonomi, Heri Lingga, Arif Hatta, dan Yosi Winosa, Anin—begitu ia akrab disapa—memaparkan strategi-strategi bisnisnya. Berikut cuplikan hasil wawancaranya.

Apa yang Anda injeksi ke ANTV sehingga mampu menjadi stasiun teve dengan peringkat tertinggi?

Kalau diibaratkan seorang atlet, kami ini atlet lari jarak jauh, atlet maraton. Kalau kita lihat, bisnis berbasis populasi atau konsumsi domestik di Indonesia pasti berumur panjang dan tahan lama. Oleh sebab itu, kami memilih untuk menjadi atlet maraton di bidang ini. Bahkan, bukan lagi atlet maraton, tetapi triathlon karena kami juga berenang dan berlari. Itu adalah analogi yang menarik.

Saya mulai mengurus ANTV sejak tahun 2001, sejak kembali dari sekolah bisnis di Stanford. Saat itu, usia saya 27 tahun. Sebelumnya, saya sudah bekerja di Wall Street, tetapi kembali ke Indonesia dan membuat perjanjian dengan keluarga. Saya diminta untuk memilih perusahaan yang kurang bagus, bangkrut istilahnya, dan kalau saya mau menjalankan perusahaan, keluarga tidak akan intervensi. Saat itu, sudah banyak perusahaan kami yang bangkrut. Namanya juga habis krisis, jadi saya tinggal pilih mau yang mana. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih ANTV.

ANTV sempat masuk Program Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Kami masuk ke dalam bankruptcy protection. Jadi, baru satu minggu di ANTV, saya sudah masuk ke pengadilan, ke PKPU. Di sana, kami menyampaikan kepada seluruh stakeholder mengenai keadaan kami sebenarnya. Anda tidak bisa berharap terlalu banyak, tetapi kalau dikonversi, utang itu bisa menjadi ekuitas pemegang saham. Nah, kalau ini berhasil, nilai sahamnya jadi tinggi. Siapa tahu, kita punya kemampuan untuk membeli lagi. Itulah yang terjadi. ANTV dimulai dari keadaan yang sangat sulit selepas krisis tahun 1997. Tahun 2001, bisa dibilang kita internal take over. Setelah itu, kita ke PKPU untuk membahas penundaan kewajiban membayar hutang. Dari situ, kapal sudah bisa mengambang, tetapi belum mempunyai bahan bakar untuk berlayar.

Setelah Anda berhasil meyakinkan kreditor agar tidak dibangkrutkan, apa yang Anda lakukan agar ANTV bisa hidup?

Persoalannya tinggal cara kita membayar gaji karyawan, bagaimana membayar program, frekuensi, dan juga satelitnya. Berbagai cara ditempuh agar perusahaan tetap hidup. Saya harus jujur, belum ada pengalaman apa-apa ketika itu. Walhasil, kami mencoba menggandeng Star TV milik Rupert Murdoch yang sudah terbukti tidak terkalahkan. Tetapi, hasil kerja lapangan menunjukkan bahwa selera masyarakat Indonesia tidak sama dengan masyarakat luar negeri. Kalau pun programnya berasal dari luar negeri, tetap harus dilokalisasi. Akhirnya, setelah kami bisa berjalan, kami beli kembali sahamnya dan kami kembangkan sehingga bisa lebih fleksibel. Bersamaan dengan kemampuan dalam membaca peluang, akhirnya dana mulai bergulir, kepercayaan mulai muncul.

Apakah Anda meninggalkan bisnis telekomunikasi karena mengetahui bahwa bisnis pertelevisian akan berkembang?

Selama empat sampai lima tahun belakangan, kami tingkatkan ANTV sampai bisa seperti saat ini. Kenapa lima tahun lalu saya giat sekali? Karena saat itu saya mengambil keputusan bahwa saya tidak mau berada di bisnis telekomunikasi yang mainstream seperti Bakrie Telcom (B-Tel). Akhirnya, aset frekuensi kami jual kepada Grup Sinarmas karena mereka ingin menekuni bidang itu. Kami melepasnya karena bisnis itu memiliki belanja modal yang tinggi dan tingkat kreativitasnya kurang.

Kami ingin berbicara ke arah bisnis yang sebaliknya, belanja modal yang rendah, kreativitas dan untung yang tinggi. Modalnya ada di otak kita, tetapi tidak mudah mengelola SDM. Kami ciptakan lagi SDM sampai akhirnya berhasil dan menggeliat seperti sekarang. Tetapi, kami tidak berani menyatakan diri sebagai pemain cerdas. Lima tahun bisa langsung jadi atau tidak, kami ini hanya pemain pelari.

Ketika roda ANTV berjalan bagus, Anda sudah mencaplok satu stasiun teve lagi (Lativi). Bisa dijelaskan alasannya?

Iya, ketika kami mengambil alih Lativi, kondisi ANTV juga belum terlalu bagus. Apalagi, kondisi Lativi ketika itu juga sedang kurang baik. Bahkan ketika diambil alih, ada beban utang macet di Bank Mandiri. Jadilah, saat itu, kami risk taker. Hahahaha…

Kala itu, apa yang Anda lakukan dengan dua stasiun teve yang kondisinya sedang kurang bagus itu?

Pertama, tentunya kami berpikir mau dibawa ke mana arah bisnis ini karena teve hiburan sudah banyak sekali. Lalu, kami melihat bahwa yang saingannya hanya satu itu teve berita. Tapi, berita macam apa yang ingin kami sajikan? Akhirnya, kami memutuskan untuk membuat teve berita saingan Wall Street, kelas atas. We make news for the mainstream. Misalnya, saat bicara inflasi, bukan hanya memberitakan inflasi 5%—6% saja, tetapi bicara dalam konteks. Kalau kita berbicara harga cabai, kita juga berbicara mengenai stoknya juga keadaannya di kota-kota yang berbeda.

Lalu, Lativi kami ubah namanya menjadi tvOne yang fokus pada segmen lelaki sedikit berumur yang cenderung menggemari siaran olahraga. Oleh sebab itu, acara olahraga yang masih ada di ANTV dipindahkan ke tvOne. Kami coba mengombinasikan antara CNN dengan ESPN, ini jarang terjadi. Tetapi, kami berpikir untuk mencobanya. Akhirnya, kami coba dengan World Cup, tapi ternyata tidak menguntungkan.

Setelah kurang berhasil dengan program sekelas World Cup, apa yang Anda lakukan?

Kami pikir, jangan-jangan kami memiliki rezeki di konten lokal. Dari dulu, ANTV sudah menyiarkan bola Liga-1, kami pun berpikir untuk tidak berhenti sampai di bola. Akhirnya, kami coba dengan olahraga hiburan, keluarlah UFC. UFC ini sama seperti One FC di ASEAN. Lalu, kami berpikir kenapa tidak membuat acara sendiri, One Pride MMA, Indonesia kan memiliki banyak petarung.

Kami mulai dengan merangkul mereka secara baik-baik. Kami membuat jaringan sebanyak hampir 500 sasana. Lalu, kami membuat kontrak dan memastikan bahwa selama dalam pertarungan, mereka akan mendapatkan asuransi yang baik dan medical attention yang luar biasa. Di tahun pertama sudah break event, lalu di tahun kedua dan ketiga meraih untung. Artinya, bukan hanya olahraga seperti sepak bola dan bulu tangkis saja yang diminati, olahraga hiburan juga bisa menarik. Jadi, tvOne berfokus pada berita lokal, internasional, dan juga olahraga lokal.

Dengan begitu, dua teve kami tidak bertabrakan, melainkan bersinergi. Jadi, saat bertemu, pengiklan kami bisa menyampaikan dengan mudah dan enak. Saat ditanya target pasar dan program yang dipasarkan, kami sudah jelas. Tetapi, kami tidak berhenti sampai di situ. Kami memikirkan cara membantu mereka berjualan sehingga iklan mereka berhasil. Banyak hal yang kami lakukan, bukan hanya menyoal iklannya, tetapi juga badan dari program yang ada di dalamnya. Dengan begini, semua menjadi efektif. Biasanya, saat acara yang sedang berlangsung dan terpotong oleh iklan, pemirsa akan pergi dan lain sebagainya, tetapi jika berupa add clips ini bisa menjadi semacam kunci kami untuk bisa berjalan.

Berarti, selama lima tahun ini berada di posisi yang gamang, ya. Lalu, bagaimana Anda menyulap semua itu?

Kami di VIVA Grup percaya pada quite revolution, 'revolusi yang senyap'. Bukan apa-apa, kami pun tidak tahu ini akan sukses atau tidak. Jadi, kami tidak berkoar-koar terlebih dahulu karena kalau pada akhirnya tidak berjalan, tentu malu dan tidak enak. Kami katakan, lima tahun yang lalu, sumber daya kami terbatas, jadi harus ada kesepakatan dengan pemilik terdahulu. Sebelumnya, kami berfokus pada telekomunikasi, media, dan teknologi (TMT). Namun, kami memutuskan untuk fokus di media.

Kedua, kami berfokus pada segmentasi. Kalau mengelola dua teve tentu harus membagi-bagi segmennya, yang satu fokus di perempuan, satunya lagi pada laki-laki. Kelihatannya mungkin mudah, tetapi sebenarnya tidak karena banyak juga grup yang memiliki dua sampai tiga stasiun teve dan semuanya berfokus di hiburan. Hiburan itu ibarat pasar serba ada. Bagi manajemen yang malas, hiburan itu adalah segmen yang paling enak, taruh saja semuanya, nanti juga ada yang dimakan. Tetapi, yang tidak dimakan itu akan menjadi masalah. Jadi, kami berusaha untuk tidak menjadi orang yang malas. tvOne untuk laki-laki, ANTV untuk perempuan.

Ketiga, ketika kami melihat saingan-saingan kami sudah mulai balap lari dan menang, sedangkan kami tidak, itu bukan masalah. Sambil mengurangi beban, kami juga harus berhemat. Kami harus memutar otak untuk menciptakan program yang menarik, dijual dengan harga yang sama, bahkan lebih menarik, tetapi tidak mahal. Sekarang banyak orang yang bilang, program yang enak itu program India, belinya gampang. Persoalannya, bagaimana itu bisa low cost dengan interaktivitas yang tetap tinggi.

Dengan melihat kompleksitas seperti itu, apa yang Anda lakukan?

Perlu disadari bahwa yang membuat berhasil bukanlah filmnya, tetapi manajemen talentanya. Seperti acara Indonesia Lawyer Club (ILC), di tvOne, acara itu atraksinya tidak berada pada kursi atau setnya, melainkan Pak Karni (Karni Ilyas –Red). Dengan pengalaman dan juga jaringannya, dia mampu berinteraksi dan menggali lebih dalam para narasumber sehingga pemirsa seolah-olah hadir di situ. Dengan kekuatan dan jaringan Pak Karni yang luar biasa, akhirnya kami mengadakan acara ILC Road Show keliling daerah.

Intinya, pertama kita harus membuat desain mengenai bisnis yang akan dijalankan. Kedua, segmentasinya harus jelas, tidak bisa di semua segmen. Ketiga, ketika memulai dari keterbatasan, kita harus berhemat, harus ada low cost strategy. Terakhir, kita harus interaktif.

Kami sudah memiliki kiat-kiatnya, tidak terlalu rumit, hanya saja, untuk menjalankan semua itu, kita membutuhkan visi, DNA, dan eksekusi yang benar. Selebihnya, kita harus bisa berinteraksi dengan stakeholder, shareholder, pasar modal, dan lain sebagainya. Kelebihan kami itu tidak terletak pada mimpi atau visi, sederhana saja, kami ingin membuat keluarga Indonesia bahagia.

Sejak tadi Anda menyinggung soal DNA, lalu DNA luar biasa apa yang sebenarnya dimiliki oleh ANTV dan tvOne ini?

Pertama, gen kami ini resilience (red: tangguh). Maksudnya, kami ini bukan pemenang, tetapi kami juga tidak mau menjadi orang yang kalah. Jadi, ketangguhan itu ada. Orang di VIVA itu tangguh semua. Kedua, kami juga selalu menanamkan sikap untuk tidak malas, bukan hanya malas fisik, tetapi juga malas berpikir, malas mencari inovasi, malas membahagiakan pelanggan, malas mengulik data, dan malas mencari program-program luar negeri yang unik. Kalau dilihat, program kartun di ANTV tidak ada yang berasal dari Disney. Kami tidak pernah mencari program di Universal, Disney, atau Warner Bros. Program mereka mahal, tetapi belum tentu laku. DNA "jangan malas" itu harus ada. Ketiga, don’t be stupid. Artinya, membuat kesalahan boleh, tetapi jangan mengulang kesalahan yang sama. Sense of human kami juga besar, ketika kami melihat sesuatu, kami hadapi saja, jalan terus.

Keuntungan bekerja di industri ini adalah selama masih ada orang Indonesia yang membutuhkan hiburan, konten akan terus menjadi raja. Mungkin, distribusi dan sarananya berbeda, bisa melalui analog, digital, internet, atau bahkan telepati sekali pun, tetapi konten tetap dibutuhkan.

Jadi, jika ditanya VIVA itu bisnis apa, kami bisa menjawab bahwa VIVA itu bisnis yang memproduksi dan mendistribusikan konten, konten yang didasarkan pada data, penuh keyakinan, dan diminati masyarakat Indonesia. Kalau ditanya competitive advantage yang kami miliki, kami bisa menjawab bahwa kami yang lebih tahu mengenai Indonesia daripada orang lain. Kami tahu kemauan orang Indonesia dalam hal tontonan. Pengalaman kami juga sudah banyak. Pengalaman kami memang bukan pengalaman berhasil semua, tidak sedikit juga yang gagal, tetapi kami belajar dari pengalaman. Kalau dari 10 pilihan 9 tidak jalan, setidaknya masih ada 1 yang jalan.

Anda menyebutkan harus rajin mengulik data. Apa makna data bagi Anda?

Kami percaya pada data. Untuk mentransformasi semua ini, Anda harus melihat dan membaca semua data, baik untuk yang laki-laki, maupun yang perempuan. Segmentasi itu bisa diketahui melalui data, semua ini berdasarkan riset dan data. Data itu penting, tetapi tidak semua orang melakukannya. Mencari dan mengolah data itu bukan hal yang mudah karena kita harus benar-benar jeli. Kebetulan, latar belakang saya insinyur teknik industri. Saya sekolah jauh memiliki satu tujuan utama, yaitu bagaimana menghasilkan sesuatu yang sama, tetapi dengan cara yang lebih efisien dan efektif.

Ke depannya, visi saya adalah membaca data lebih akurat sehingga bisa mendapatkan  masukan dari data tersebut secara lebih langsung dan real time, mungkin dengan pemanfaatan artificial intelligent dan konektivitas internet sehingga bisa siaran langsung. Saat ini, banyak orang yang membuat sesuatu, entah video atau apa pun, dan menyebarkannya di media sosial. Dari situ, kami bisa tahu jumlah penontonnya dan penyukanya. Kami bisa melihat tingkat minat hal itu. Akan lebih menarik lagi kalau suatu saat kami bisa menemukan suatu aplikasi interaktif yang membuat penonton teve bisa berinteraksi, bermain game, atau berbelanja secara langsung ketika melihat teve.

Misalnya, saat menonton acara Pesbukers. Suatu saat nanti, kami ingin bisa bekerja sama atau membuat suatu platform untuk mengetahui waktu orang menonton, waktu orang tidak menonton, hal yang menarik bagi dirinya, keinginan penonton membeli baju yang dipakai oleh Raffi Ahmad, ataukah lebih banyak yang ingin melihat Jesica Iskandar. Dari situ, kita bisa mengetahui keinginan penonton. Kami ingin mengetahui penonton lebih baik sehingga membuat para pengiklan lebih tertarget dalam mengiklankan produknya.

Setelah Anda memperoleh data, bagaimana cara Anda mengolah data tersebut?

Perusahaan besar seperti Snapchat dan Facebook tentu sudah mampu menguasai digital. Nah, kami pun ingin belajar ke arah sana. Menurut saya, itulah manfaat terbesar dari teknologi digital. Saya rasa, yang terpenting bukan hanya memiliki gambar yang bagus atau saluran yang lebih besar, tetapi bagaimana memperoleh data secara langsung dan real time. Itulah hal yang menarik sekaligus tantangan proses digitalisasi. Misalnya, acara Pesbukers. Dengan adanya realtime decision, saat jeda iklan, kita bisa mengetahui lawakan mana yang bagus, artis mana yang seharusnya kita keluarkan lebih dulu, dan lain sebagainya. Data sebesar ini sebenarnya sudah mungkin dimiliki.

Saat ini, kita bisa mengetahui topik terhangat dengan melihat yang orang Indonesia cari, baik lewat Twitter, Facebook, atau pun yang lainnya. Namun, yang sulit adalah menyambungkan setiap titiknya. Kalau sudah bisa, tentu ini akan memudahkan kami dalam menyiapkan konten untuk produksi. Jadi, kami ingin menggunakan platform yang baik untuk mendistribusikan konten yang kita buat kepada masyarakat Indonesia dengan cara yang benar.

Apakah saat ini sudah mengarah ke sana?

Saat ini kami sudah melakukannya, tetapi belum dengan automasi ala AI. Itu hanya masalah waktu saja. Kalau cara automasi yang bersifat analog bisa kita lakukan, ini yang membuat kita bisa mengatakan bahwa prime time itu bukan saja jam 6 sampai 10 malam, setiap jam itu prime time.

Bagaimana Anda mengelola data media sosial jika ternyata tidak ada irisan yang sama dengan ANTV dan tvOne?

Kami beranggapan bahwa televisi dan internet berkembang bersamaan dan saling berkomplementer. Kami tahu bahwa yang menonton teve usianya lebih tua daripada yang bermain internet dan media sosial. Mereka masih bagian dari keluarga yang sama. Jadi, kami memastikan untuk menggunakan teknologi dan platform internet untuk mendekati keluarga yang sama. Ketika mereka sarapan atau makan malam, mereka akan membicarakan hal yang sama. Inilah mengapa ANTV bisa dikatakan sebagai salah satu saluran yang sering menjadi trending topic karena memang kami mendesain seperti itu.

Untuk memperlebar pemirsa, kami harus memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Ibu-ibu rumah tangga atau anak-anak yang belum memiliki gawai, kita alihkan ke teve. Begitu juga dengan bapak-bapak, tentu akan lebih nyaman duduk menonton pertandingan bola di teve.

Bagaimana Anda merangsang hal-hal out of the box?

We take the business very seriously. Saya sering mengatakan, kalau ingin melakukan inovasi, harus sering membaca. Saya berbicara begini karena saya lebih banyak gagalnya dibandingkan yang lain. Kalau Anda sudah banyak mengalami kegagalan, suatu saat Anda pasti akan sukses, tidak mungkin gagal terus. Yang penting, jangan sampai gagal dua kali di hal yang sama. Kami selalu memikirkan hal yang diinginkan oleh pengiklan, mereka mau jual produk kepada siapa.

Saat ini, kita harus lebih sainstis, membaca data, focus group discussion, melakukan riset, dan lain sebagainya.

Hal penting yang harus diketahui adalah hal yang masyarakat suka belum tentu sama dengan yang kita sukai. Inilah yang menyebabkan kami dulu kurang berhasil. Dulu kita sok-sokan memakai Hollywood, sudah harganya mahal, orang mau menonton juga sudah ada di bioskop. Berbeda halnya dengan Persia, Turki, India, Rusia, atau Filipina yang masih jarang. Intinya, mesti do trial and error. Ketika salah, cepat ganti, belajar dari kesalahan. Enaknya di teknologi, you can do trial and error as often as you like, tapi tanpa membuat kesalahan besar. Jadi, kita harus sering melakukan percobaan.

Kami melakukan percobaan program, ini laku atau tidak di pasaran. Kalau laku, kami tingkatkan. Bukan hanya semata melihat tren, tetapi melihat data demografi dan psikologi orang Indonesia. Dengan teknologi, kita bisa tahu. Tapi untuk bisa zoom in, kita butuh seni. Jadi, teknologi memberi arah, seni membuat kita tahu hal yang orang sukai. Lalu, digabung dan dikelola keduanya. Jangan sampai salah kaprah. Jangan menentukan sesuatu berdasarkan perasaan.

Ke mana Anda akan membawa ANTV dan tvOne ke depannya?

Sekarang kita melihat teknologi di dunia selalu berganti, masyarakat pun bertumbuh. Kami merasa bahwa membahagiakan satu keluarga itu abadi. Meskipun awalnya kami membicarakan hiburan, ke depannya VIVA harus berpikir O2O. Di situlah uangnya. Contohnya, online kita bisa bersaing, film dan sinetron mana yang bagus, kita adaptasikan, kita lokalisai, tetapi offline experience tetap tidak tergantikan, seperti saat meet and greet bersama para artis.

Kami memikirkan loncatan-loncatan ke depan dengan memikirkan bahwa orang masih melihat teve. Understanding habit of human bisa pakai teknologi, tetapi memahami jiwa dan suara hati tidak bisa menggunakan teknologi.

Yang terpenting adalah mengeksekusi online to offline agar menjadi sesuatu yang langsung mengena. Bayangkan saja, meet and greet yang bisa mendatangkan 30 ribu orang, di situ, kan, juga bisa mengiklankan produk. Di situlah orang mengapresiasi kinerja kita dengan pengiklanan itu juga.

Menurut Anda akan seperti apa VIVA dalam 5 sampai 10 tahun mendatang?

Dalam waktu 5 sampai 10 tahun kami harus bisa naik lagi, mungkin menjadi semacam Disney Indonesia. Mereka punya news channel, channel ABC, bahkan sport channel. Lalu, online to offline-nya bisa ke mana-mana. Dari taman hiburan, sampai produk.

Sumber: WARTA EKONOMI

O2O Pasar yang Empuk

Bisnis bergerak dengan cepat. Beradu kelebihan untuk menyedot pengiklan atau sponsorship sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan. VIVA Group, khususnya ANTV, boleh dibilang tegap saat ini. Namun, apa lagi yang akan dilakukan agar stamina bisnis terjaga dan selalu tegap?

Ruang teater Ciputra Artpreneur tampak penuh oleh ratusan orang malam itu (6/12/2017). Ratusan orang yang berasal dari berbagai agensi iklan, rekanan bisnis, dan para pegawai ANTV memenuhi ruang tersebut. Inilah salah satu momen penting yang tidak dilewatkan oleh ANTV untuk “menjual diri” di depan para kepanjangan tangan pengiklan ini.

Di depan ratusan orang tersebut, Anindya Bakrie, sang Presiden Komisaris ANTV yang juga Presiden Direktur Viva Group, meyakinkan bahwa industri pertelevisian akan semakin menarik pada tahun 2018. Program-program baru akan selalu disajikan kepada masyarakat Indonesia. Apalagi, akan ada sejumlah agenda besar yang siap menggelorakan bisnis Tanah Air, seperti ajang Asian Games, Pilkada, pada tahun 2018.

Sejauh ini, teve memang masih menjadi medium yang sangat menarik bagi pengiklan di Indonesia. Menurut informasi dari Nielsen Indonesia, kontributor utama untuk pertumbuhan belanja iklan masih dari media teve yang menyumbang 80% dari total nilai belanja iklan.

“Nilai belanja iklan teve yang kami laporkan selama ini hanya memperhitungkan iklan-iklan yang tayang di jeda iklan. Sementara itu, ada bentuk iklan teve lain, yang masih belum dimasukkan dalam pelaporan. Jadi, masih ada aktivitas iklan di teve yang belum terkuantifikasi nilainya,” ungkap Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business, Nielsen Indonesia.

Artinya, nilai iklan maupun noniklan yang menjadi pendapatan perusahaan media, termasuk yang diperoleh VIVA Group, akan lebih besar lagi. Sebut saja, ANTV banyak menggelar kegiatan di berbagai daerah untuk mempertemukan artis-artis idola dengan masyarakat, sekaligus mendekatkan program-program yang mereka miliki. Bukan tanpa sponsor mereka keliling ke daerah-daerah. Banyak sponsor yang siap terjun ke kerumunan yang dikumpulkan oleh ANTV.

Menurut Anindya, ANTV bukan sekadar perusahaan penyiaran, tapi perusahaan keluarga yang fokus pada bidang konten, talent management, dan event organizer. Identitas perusahaan ini sudah sangat jelas sekarang, termasuk posisi tawar dan nilai bisnisnya.

Perjalanan mencapai titik jaya sekarang tidaklah sederhana. Bayangkan saja, sekitar lima belas tahun lalu, ANTV masih menjadi televisi yang paling bontot. Vice President Director ANTV, Otis Hahijary, menyebutkan bahwa tahun 2013 sampai dengan 2017 adalah proses menuju first tier.

Ada dua prinsip yang dipegang sepanjang perjalanan mencapai posisi sekarang. Pertama, televisi ini membuat keluarga Indonesia bahagia. Di zaman apa pun, perusahaan ini harus bisa memberikan kebahagian atau hiburan kepada lintas generasi. Kedua, segala langkah yang dilakukan harus “menang-menang’. Semua pihak diuntungkan, perusahaan senang. Begitu pula dengan vendor, artis, rumah produksi, pengiklan, dan agensi periklanan.

Tahun 2018, sudah siap disambut dengan sangat optimistis. Otis menyebutkan, sudah menyiapkan berbagai program untuk tahun 2018. Program yang akan digelar, antara lain lokalisasi animasi yang berasal dari Rusia, Romania, Pakistan, dan Perancis. Selain itu, ada pula program yang benar-benar lokal.

Sebagai bisnis berbasis kreatif, tidak cukup hanya mencapai posisi saat ini. Apalagi, dinamika masyarakat sudah sangat cepat di era digital ini. Memang, sudah seharusnya perusahaan bisa membaca kondisi dan melihat masa depan yang akan menjadi kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, inovasi menjadi kuncinya. Inovasi adalah DNA, demikian kata Otis.

Sebagai petinggi di VIVA Group, Anin harus dapat memastikan bisnisnya akan tetap berjaya di masa mendatang. Membaca data dan fenomena, online to offline (O2O), akan menjadi masa depan grup ini. “Kita harus berpikir O2O, di situlah uangnya,” kata Anin.

Ia mencontohkan, saat meet and greet dengan para artis dilakukan, pengalamannya tidak sebanding dengan sekadar menonton di televisi. Pengalaman langsung tidak bisa digantikan oleh tayangan film, sinetron, atau yang lainnya. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh semua kompetitor. Bayangkan saja, program meet and greet tersebut bisa mengumpulkan 30 ribu orang. Bagi para pengiklan, instrumen ini menjadi jalur yang sangat efektif untuk berhubungan dengan mereka.

Salah satu program grup ini yang mencerminkan paradigma O2O adalah One Pride. Dalam mencari para Atlet Mix Martial Arts (MMA) Indonesia, perusahaan harus langsung ke daerah-daerah. Begitu pula saat memilih para atlet beladiri MMA, harus melihat secara langsung hasil pertandingannya di sejumlah sasana. Grup ini tidak pula menutup diri untuk mengembangkan saluran khusus olahraga.

Lebih jauh lagi, grup ini melihat Walt Disney sebagai perusahaan yang bisa menjadi patokan. Mereka memiliki sejumlah saluran televisi dengan berbagai segmen, tetapi aktivitas O2O-nya juga berjalan karena mereka memiliki taman hiburan.

Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang tidak boleh lengah dari mata para pebisnis. Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran, menyebutkan empat hal yang menyeramkan dalam sebuah bisnis, antara lain volatility in change, uncentainly in competitor, complexity in customers, dan ambiguity in company.

Sumber: WARTA EKONOMI

The Silent Transformation "Si Anak Bawang"

Berbekal kekuatan memahami kebutuhan audiens, ANTV mentransformasi diri menjadi stasiun televisi entertainment yang menempati pangsa pasar teve tertinggi saat ini. Strategi apa yang dipakai ANTV membalik dari teve underdog menjadi jawara?

Kejadian pada 2001 seperti tidak pernah dilupakan Anindya Novyan Bakrie. Pada waktu itu, ia ditelepon sang ayah yang tak lain adalah pengusaha Aburizal Bakrie untuk segera balik ke tanah air. Padahal, pria jebolan Stanford Graduate School of Business, California ini sedang menikmati bekerja di Salomon Brother di Wall Street, Amerika Serikat.

“Kapal lagi berat nih, kamu mesti segera pulang ke Indonesia,” ujar putra sulung Ical menirukan omongan sang ayah pada waktu itu. Mau tak mau, ia kembali ke tanah air. Anin, begitu ia kerap disapa, bikin perjanjian dengan keluarga. Keluarga memberi keleluasaan untuk melakukan transformasi menyeluruh atas perusahaan (keluarga) yang dikelolanya.

Kondisi perusahaan-perusahaan yang tersedia boleh dibilang sedang babak belur atau ‘kapal lagi berat’. Perusaan yang dipilih PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) dan Bakrie Telecom. Belakangan, perusahaan telekomunikasi dilepas pihak lain, dan konsen ke teve. Alasanya, untuk mengembangkan teve, modalnya nggak sebesar telekomunikasi, teve butuh kreativitas.

Apesnya, kondisi ANTV ketika itu sedang dititik nadir alias di ambang kebangkrutan. Kalau di Amerika Serikat, perusahaan yang masuk Chapter 11. Para kreditor yang diwakili Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ketika itu nyaris menjatuhkan vonis membangkrutkan stasiun teve itu.

Sebagai anak muda yang masih belum berpengalaman berurusan dengan para kreditor, Anin hanya bisa mengatakan kondisi perusahaan sedang tidak baik. Ia mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ke Pengadilan Niaga agar seluruh utang kepada kreditur yang unsecured dapat dikonversi menjadi saham dan penjadwalan kembali (reschedule) pembayaran seluruh utang dagang.

“Alhamdulilah, para kreditur menyambut positif dan menyetujui usulan PKPU tersebut yang dituangkan dalam Perjanjian Perdamaian. Dengan demikian, ANTV bisa lebih berkonsentrasi memperbaiki kinerja keuangan perseroan,” ujar Anin.

Kapal ANTV yang nyaris tenggelam pun bisa mengambang lagi. Tapi, untuk berlayar, tidak punya bahan bakar alias modal. Sebagai jebolan Stanford School Business, ia pantang menyerah untuk mencari jalan keluar. Berbagai upaya ia lakukan agar kapal ANTV tidak karam.

Pada Oktober 2005, Anin ketemu mitra potensial sekelas raja media Amerika Serikat dan Australia, Rupert Murdoch. Sekitar 20% saham ANTV senilai juta US$20 juta berpindah tangan ke Newscorp yang mengelola Star TV. Dengan masuknya figur besar, ekspektasi ANTV bakal melejit jadi teve nomor satu.

Kurun tiga tahun berlalu, tidak ada tanda-tanda perbaikan pangsa pasar audiens ANTV. Pangsa pasar audiens anjlok ke level 4%. Posisi itu menempatkan ANTV jadi teve dengan rating underdog. Newscorp pun angkat tangan dan melego lagi saham mereka. ANTV pun sendirian lagi. Tapi, di dalam teve itu, sejatinya ada ‘three musketeers’ yakni Anindya Bakrie, Erick Thohir, dan Otis Hahijary. Tiga anak muda inilah yang akhirnya putar otak agar ANTV bisa bangkit kembali.

Knowing your audiens,” ujar Otis Hahijary, Director Viva Group yang membawahi ANTV dan tvOne. Itulah hukum utama berbisnis media televisi. Tapi, implementasi hukum utama itu tidak gampang. ANTV sudah tiga kali gonta-ganti segmen audiens mulai dari remaja, olahraga, lalu ke perempuan dan terus kedodoran. Untuk menajamkan siapa sesungguhnya pemirsa yang ingin disasar, riset data menjadi andalan.

Data Sosial Economic Classification (SEC) pun dibuka. Data SEC memiliki lima kategori, yakni Lower, Middle 2, Midle 1, Upper 2 dan Upper 1. Periode 2016 & 2017 secara mayoritas (78%) yang menguasai pasar dari kelompok Middle 2 hingga Upper 2. Di segmen antara itu, mayoritas merupakan pemirsa dengan gender perempuna (51,4%) dan lelaki (48,6%). Dari data seperti inilah, diputuskan bahwa ANTV merupakan teve entertainment dengan segmen perempuan dan keluarga.

“Pilihan segmen perempuan merupakan target yang paling mahal dan laku karena kaum female itu pengambil keputusan di keluarga,” ujar Otis Hahijaya. Sedangkan tvOne di-rebranding menjadi teve berita dengan segmen pasar kaum lelaki di kelas Upper 2 ke Upper 1. Sebagai teve berita untuk kaum lelaki maka acara olahraga di ANTV dimigrasi ke tvOne, seperti acara sepak bola. Dengan demikian, ANTV sudah tidak lagi memiliki acara olahraga dan konsentrasi sebagai entertainment teve dengan segmen perempuan dan keluarga.

Sejak rebranding ANTV seperti itu, pergerakan TV share merujuk hasil survei Nielcen TA All People (1 Januari31 Oktober 2017) dari posisi paling bawah di level 4,5% (2001) terus bertumbuh hingga menjadi 15,2% (2017), sedikit dibawah RCTI yang menguasai 15,3%. Sedangkan saudara lelakinya, yakni tvOne, menduduki peringkat nomor satu sebagai teve berita dengan teve share sebesar 3,9% (2017), mengungguli Metro TV yang meraih 1,7%, Inews TV (1,7%), dan Kompas TV (1,4%).

Menurut Otis, dengan pemilihan segmen pasar yang tegas antara ANTV dan tvOne tersebut, tidak saling menggangu target audiens masing-masing ketika jualan ke calon pemasang iklan. Bahkan, dengan pemisahan segmen itu, justru memberi benefit berupa bundling tarif iklan di ANTV dan tvOne. Begitu juga sebaliknya, terhadap iklan produk dan jasa yang menyasar kaum lelaki bisa di-bundling ke target perempuan

Yang menjadi pertanyaan, pemilihan segmentasi kaum perempuan di kelas menengah juga menjadi target pilihan stasiun teve entertainment lainnya. Lalu, bagaimana ANTV mampu menyodok stasiun teve lainnya? Seperti dikatakan Otis Hahijary, kuncinya mengetahui siapa target audiens yang disasar. Setelah mengetahui siapa figur pemirsa dan membaca kebutuhan mereka, barulah dirumuskan program-program unggulan yang memenuhi kebutuhan target audiens.

Langkah awal ANTV ialah menghadirkan tayangan foreign serial, seperti Indian Series dengan andalan serial Mahabharata. Pilihan serial ini memiliki kedekatan budaya dengan pemirsa Indonesia. ANTV pun memilih bintang-bintang India di level menengah untuk menjadi pemeran di serial ini. Ini yang berbeda dari stasitun teve lain. Ketika ANTV mengimpor serial dari luar negeri, diberi sentuhan local content (down to earth) budaya Indonesia agar lebih dekat dengan pemirsa di dalam negeri. Bahkan, sampai urusan musik backgroundnya pun kental budaya Indonesia.

Strategi ANTV menghadirkan program foreign serial dengan lokalisasi content terbilang jitu. Respons pemirsa di dalam negeri pun membludak. Walhasil, rating foreign serial ANTV mendapat rating yang tinggi. Hal ini terlihat dari share untuk serial King Sulaiman yang memperoleh 22,8%, Mahabharata 21,6%, Jodha Akbar 18,4%, dan Navya 14,7%.

Selain foreign series India, ANTV juga mempopulerkan serial Turki. Alasan memilih serial Turki karena ada kedekatan emosional antara kedua negara. Salah satu bentuk kedekatan itu dari sisi bahasa. Kalau diteropong dari sisi social economic status, serial Turki condong ditonton pemirsa dari golongan menengah dan atas. Pada 2015, ANTV sudah menayangkan sepuluh serial Turki yang mendominasi market share lewat tiga judul serialnya, yakni Canzu & Hazel (peringkat 3,2), Shehrazat 1001 Malam (peringkat 2,7), Abda Kejayaan (peringkat 2,1).

Menurut Otis, ANTV tidaklah puas atas perolehan market tv share tertinggi di foreign series tersebut, tapi untuk menjaga loyalitas para pemirsa, pihak ANTV memakai 360? Communication Strategy, yaitu ANTV memberlakukan integrated strategy communication. Di bawah payung strategi inilah, ANTV mengkreasi acara off-air bertajuk “meet and greet” yang menghadirkan pemeran dari serial Mahabharata dan serial lainnya untuk berjumpa dengan para permirsa di sejumlah kota, di berbagai daerah. Responsnya luar biasa. Rata-rata hampir 30 ribu pemirsa membanjiri acara tersebut.

Guna menjaga loyalitas para fans serial di ANTV tersebut, agenda off air “meet and greet” tersebut digelar minimal dua minggu sekali di sejumlah kota di seluruh Indonesia. Program off-air ini walhasil menduduki rangking tertinggi dibanding program serupa stasiun teve lainnya. Prestasi ANTV yang mengukir torehan sejarah perusahaan adalah ketika menggelar drama musical Mahabharata Show yang jumlah pemirsanya lebih tinggi dibanding penonton sepakbola World Cup 2014 yang disiarkan tvOne.

Agar pemirsa nggak boring dengan menu ANTV, Otis Hahijary bersama tim mematok target setiap bulan ada satu program baru. Begitu pula dalam memilih program acara animasi kartun untuk target anak-anak, ANTV tidaklah berkiblat pada kartun produksi Amerika Serikat. Dipilihlah kartun terbaik dari Rusia, Perancis, atau produksi sendiri. Kreasi-kreasi segar seperti ini sudah barang tentu membuat ANTV yang sebelumnya di posisi si anak bawang dalam teve share, kini menjelma menjadi stasiun teve dengan peringkat tertinggi.

Sudah barang tentu, kenaikan teve share berdampak ke revenue perusahaan. Revenue Viva Group (ANTV & tvOne) selama semester pertama 2017 sebesar Rp1,3 triliun atau melonjak 9,1% dari periode yang sama pada 2016 yang membukukan Rp1,2 triliun. Kalau dilihat dari sisi persentase peningkatan, revenue ANTV tertinggi dibanding teve nonlisted company maupun teve yang listed company.

CEO Trans Media, Atiek Nur Wahyuni, mengakui persaingan di industri teve begitu ketat. Setiap stasiun berupaya unggul dari kompetitornya. Pelaku industri teve mahfum benar, sejatinya tidak ada pemirsa yang loyal pada satu stasiun teve, tapi mereka loyak terhadap program. “Jadi, persaingan tergantung pada kreativitas untuk membuat program yang disukai pemirsa,” ujar The Most Admired CEO 2017 versi majalah Warta Ekonomi yang membawahi Trans TV, Trans7, Detik.com, CNN Indonesia, CNN.com, Transvision.

Battle statisun teve berlangsung menit demi menit untuk menguber rating pemirsa atas program unggulan masing-masing. Setidaknya, silent transformation yang dilakukan The Three Musketeers (Anindya Bakrie, Erick Thohir, dan Otis Hahijary) sudah membuahkan hasil. Dua teve mereka berada di puncak rating. Tranformasi ditubuh Viva Group tidak hanya menjadikan ANTV dan tvOne hanya sebagai stasiun teve, tapi menjelma menjadi human talent company dan event orginizer company.

Silent transformation ANTV ini yang tidak terlacak sepenuhnya oleh teve pesaing mereka. Kata Anindya Bakrie, ANTV dan tvOne merupakan resillience competitor yang tidak begitu mudah untuk dikalahkan oleh rivalnya.

Sumber: WARTA EKONOMI

Jelang Tahun Politik, Pemuda Harus Melek Politik dan Mengawal Demokrasi

Oleh: Eric Mangiri (Alumni BCF, Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia/HMPI)

 

Dalam sejarah Indonesia dari prolog sampai epilog kemerdekaan, pemuda memiliki peranan luar biasa sebagai “avant garde” (ujung tombak) perubahan. Panggung sejarah telah mencatat sepak terjang yang ditorehkan oleh pemuda. Hal ini tercermin dari pertemuan dr.Wahidin Soedirohusodo, Soetomo dan pemuda lainnya yang menginisiasi terbentuknya organisasi pergerakan modern Boedi Utomo pada tahun 1908. Kemudian disusul dengan Perhimpunan Indonesia hingga Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang menjadi cikal bakal terjadinya integrasi ideologi yang dikenal dengan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang telah berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.

 

Integrasi ideologi yang terjadi pada 28 Oktober 1928 telah berhasil membangun kekuatan yang besar dan berkontribusi dalam pencapaian kemerdekaan Indoenesia 16 Agustus 1945, pemuda Indonesia kembali melakukan manuver dengan menculik Dwi Tunggal (Soekarno-Hatta) ke Rengasdengklok yang kemudian peristiwa ini kita kenal dengan Peristiwa Rengasdengklok.

 

Para pemuda saat itu mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Meski permintaan pemuda saat itu ditolak dengan alasan bahwa kemerdekaan adalah hal yang mesti dipersiapkan dengan matang, namun pemuda telah memperlihatkan kekuatan politiknya.

 

Di masa pasca kemerdekaan, pemuda-pemuda tidak mengalami stagnasi dalam pergerakan. Berbagai gerakan progresif dibangun sebagai upaya untuk mengisi kemerdekaan dan merawat semangat revolusioner. Mereka diperhadapkan pada kenyataan politik baru, harapan-harapan baru dan juga ketakutan-ketakutan baru. Ketakutan yang dihadapi telah membawa pemuda untuk mempertanyakan segala sesuatu dan meragukan segalanya termasuk keraguan terhadap tokoh pendahulunya.

 

Keraguan-keraguan ini dapat terlihat pada parlemen jalanan yang dilakukan oleh pemuda saat itu yang menampilkan keinginan untuk membongkar setiap gejala yang dianggap sebagai kebatilan dan menggantikannya dengan sesuatu yang baru. Hal ini bisa kita lihat di tahun 1966 ketika munculnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang membawa semangat tritura yang kemudian berhasil melengserkan Soekarno yang menjadi tanda berakhirnya orde lama.

 

Kemudian tampuh kekuasaan negeri ini berada di bawah rezim orde baru yang menampilkan wajah anti terhadap gerakan politik pemuda. Gerakan politik pemuda dipandang sebagai kerikil dalam menerapkan kebijakan ekonomi pasar bebas. Berbagai kebijakan diterapkan untuk menutup rapat kran politik pemuda termasuk kebijakan NKK/BKK.

 

Di lain sisi, kebijakan “floating mass” juga diterapkan untuk mengasingkan masyarakat dari realitas politik. Meski demikian, berbagai aksi parlemen jalanan tetap terjadi di masa ini, sebut saja peristiwa malari di tahun 1974 sebagai bentuk upaya menentang dominasi modal asing Jepang. Tidak ketinggalan pula peristiwa heroic yang menjadi romantisme tersendiri dalam gerakan mahasiswa/pemuda yaitu tragedi 1998 yang berhasil mengakhiri rezim orde baru. Pada titik ini, Indonesia kembali memasuki babak baru yaitu orde reformasi.

 

Tahun 2018 hingga 2019 adalah Tahun Politik. Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018. Sebanyak 171 daerah akan berpartisipasi pada ajang pemilihan kepala daerah tahun ini. Dari 171 daerah tersebut, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada. Selanjutnya, pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) akan digelar serentak pada 17 April 2019.

 

Pemuda(i) Indonesia harus melek politik dan turut berperan dalam mengawal proses demokrasi. Partisipasi pemuda dalam politik ini bisa dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Pemuda dapat mengambil peran independen yang mengawal proses demokrasi agar terwujudnya pilkada yang bersih sebagaimana yang diharapkan, pemuda juga dapat melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pendidikan politik.

 

Namun tidak menutup kemungkinan pemuda juga dapat menjadi bagian dari tim pemenangan calon kepala daerah. Hal ini adalah sesuatu yang wajar saja asalkan keterlibatan pemuda sebagai tim pemenangan dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif demi kebaikan daerah, bukan justru hanya menjadi bidak catur.

 

Keterlibatan pemuda secara aktif dalam pilkada tidak juga boleh dipandang serta-merta sebagai suatu bentuk penggadaian idealisme. Namun momentum pilkada ini mesti dijadikan sebagai kesempatan untuk menyelamatkan demokrasi yang bagi kebanyakan orang telah mengalami kecacatan dan sangat jauh dari harapan. Sebisa mungkin dengan keterlibatan pemuda sebagai moral of force dapat mengurangi praktek money politic, black campaign dan praktik politik kotor lainnya sehingga masyarakat tidak terjebak pada pragmatisme politik.

 

Menghujat praktek-praktek politik kotor yang dilakonkan oleh politisi-politisi tidak akan memperbaiki kondisi. Hanya ada dua cara untuk mengubah sistem yang kita anggap gagal. Yang pertama adala terlibat aktif di dalamnya dengan melakukan gerakan-gerakan progresif. Yang kedua adalah membuat sistem tandingan yang dapat diterapkan.

 

Menciptakan proses demokrasi sesuai dengan harapan bukanlah sesuatu yang utopis, selama gerakan-gerakan kecil tetap dilakukan meski membutuhkan waktu yang lama. Namun satu hal yang pasti, bahwa selama kita mendayung maka kita akan bergerak menuju ke pantai untuk berlabuh. Namun jika kita diam, kita sisa menunggu badai menghantam dan menenggelamkan kita.

Page 1 of 3