You are here : Home Program LEAD Indonesia Fellow 2018

PETA : Para Pejuang Tangguh Bagi Penderita TBC Kebal Obat

Dok. Bakrie Center Foundation

Ully Alwiyah didiagnosis mengidap TBC Multi Drug Resistence (Kebal Obat) pada saat usia 28 tahun. Pada usia 10 tahun, Ully pertama kali mengidap TBC. Namun, karena pengobatannya yang tidak tuntas maka ia kembali mengidap TBC pada saat usianya 12 tahun. Pengobatannya pun kembali tidak tuntas, karena sudah merasa sembuh. Pada akhirnya, ia harus menerima kenyataan bahwa ia mengidap TBC MDR, yang tingkatannya lebih parah dari TBC biasa. Virus TBC dalam tubuhnya, sudah tidak dapat dibasmi dengan pengobatan TBC biasa. Selama 2 tahun, Ully harus meminum 15 butir obat setiap hari dan mendapatkan suntikan khusus selama 8 bulan berturut-turut. Saat itu, ia sempat mengalami depresi dan halusinasi karena efek samping pengobatan yang berlangsung cukup lama.

Perjuangannya untuk menuntaskan pengobatan akhirnya berbuah manis. Setelah menjalani pengobatan selama 2 tahun, pada tahun 2011 Ully dinyatakan sembuh total atas TBC yang dideritanya. Sebagai penyintas TBC MDR, Ully ingin memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada para pasien TB MDR. Pada tahun 2012, Ully ikut terlibat dalam paguyuban yang dibentuk oleh para penyintas TBC, yaitu PETA (Pejuang Tangguh). Tahun 2014, PETA resmi menjadi yayasan yang mendampingi para pasien TBC MDR di 5 Kotamadya Jakarta.

Ketua PETA, Ully Alwiyah (Dok. Bakrie Center Foundation)

PETA telah mendampingi sekitar 1.000 pasien TB MDR dengan melibatkan 30 anggota pendamping yang juga merupakan penyintas TBC MDR. Ya, PETA memiliki keunikan yang membedakannya dari LSM TBC pada umumnya. Seluruh anggotanya merupakan penyintas TB MDR yang telah dinyatakan bebas TB. Kontribusi para penyintas TB MDR dalam PETA sungguh menjadi motivasi bagi para pasien yang didampingi. Mereka memiliki harapan untuk sembuh.

Berlokasi di Jalan Rawamangun Muka III, Jakarta Timur, basecamp PETA tak hanya menjadi tempat aktivitas para anggota saja namun juga diperuntukkan sebagai rumah singgah bagi para pasien TB MDR yang sedang menjalani rawat jalan. Lokasi yang dekat dengan RS Persahabatan, memudahkan pasien untuk berobat. Rumah singgah ini juga membantu pasien TB MDR yang memiliki kesulitan ekonomi dengan menyediakan tempat tinggal sementara. Tidak besar, namun cukup layak untuk menampung para pasien TB MDR. Kamar dengan ventilasi udara dan pencahayaan yang baik menjadi hal yang diperhatikan untuk menjaga kondisi kesehatan pasien.

Salah satu pasien yang sedang dirawat dan menempati rumah singgah, yaitu Dewi. Dewi berusia 28 tahun, memiliki dua orang anak. Anak pertamanya berusia 9 tahun dan anak keduanya berusia 2 tahun. Dewi tak hanya mengidap TB MDR, namun ia juga dinyatakan positif HIV. Stigma yang diterimanya sebagai pengidap TB MDR Plus, turut memberatkan proses pengobatannya. Namun, para anggota PETA tetap memberikan bantuan semangat dan motivasi kepada Dewi agar bisa sembuh. Dewi baru menjalani pengobatan selama 4 bulan, dan jelas terlihat ia memiliki semangat hidup yang kuat demi kedua buah hatinya.

Ully menemui Dewi, Pasien TB MDR yang menempati rumah singgah (Dok. Bakrie Center Foundation)

Menebar manfaat sebanyak-banyaknya bagi para pasien TB MDR, menjadi tujuan utama PETA berdiri. Ully Alwiyah merupakan Ketua PETA yang juga menjadi bagian dari jaringan fellow LEAD Indonesia 2019 Bakrie Center Foundation. Kami mengajak lebih banyak #OrangBaik ikut berbagi untuk keberlangsungan organisasi PETA, agar bisa lebih banyak membantu pasien TB MDR lainnya seperti Dewi. Klik di sini untuk #MulaiBerbagi.

#LeadForAll
Lead Indonesia 2019