Campus Leaders Program

Penutupan & Evaluasi Akhir Magang Campus Leaders Program Angkatan 4

Jumat, 8 Juli 2022, BCF mengundang 44 peserta magang Campus Leaders Program (CLP) angkatan 4 dalam sesi penutupan dan evaluasi akhir magang CLP 4 di Bakrie Tower, Kawasan Epicentrum Jakarta Selatan. Turut mengundang lembaga mitra yang menjadi pendamping lapangan dalam CLP 4 yaitu Yayasan Benua Lestari Indonesia dan Yayasan Pejuang Tangguh (PETA), serta 12 mentor pilihan yang mendampingi peserta magang selama menjalankan Magang & Studi Independen Bersertifikat (MSIB) cycle kedua.

READ MORE
Campus Leaders Program

100 Mahasiswa akan Mengikuti Magang Campus Leaders Program Angkatan Kelima

BCF kembali membuka kesempatan magang kepada mahasiswa S1 yang ingin mengasah kepekaan sosial sekaligus hard skillnya dengan menjalankan program magang selama 1 semester di lembaga-lembaga sosial, melalui Campus Leaders Program (CLP) angkatan 5. Dalam pelaksanaan magang yang akan dimulai pada 16 Agustus 2022 mendatang, BCF juga kembali terpilih menjadi mitra pelaksana Magang & Studi Independen Bersertifikat (MSIB) cycle 3. MSIB merupakan sub program dari Kampus Merdeka, sebuah program pembelajaran yang diinsiasi oleh Kemendikbudristek RI.

READ MORE
LEAD INDONESIA

Donasi Sebesar Rp 466 Juta Terkumpul Dari Program LEAD Indonesia 2022

Setelah menjalani rangkaian kegiatan program LEAD Indonesia 2022 selama 3 bulan, pada Jumat (24/6) pagi, 21 lembaga organisasi peserta LEAD Indonesia 2022 mengikuti sesi Closing Ceremony yang diselenggarakan secara daring. Acara ini dibawakan oleh Gina Fita dari TV One yang dihadiri oleh CEO Bakrie Center Foundation – Imbang Jaya Mangkuto, GPA Manager PT Energi Mega Persada Tbk- Amru Mahali, Wakil Ketua Yayasan Bakrie Amanah-Teguh Anantawikrama, perwakilan Kelompok Usaha Bakrie, serta para mentor LEAD Indonesia 2022.

READ MORE

Bantu 3000 Calon Perawat dan Bidan Raih Kompetensi, RUKI Gelar Try Out CBT Gratis

Uji Kompetensi (Ukom) untuk meraih Surat Tanda Registrasi (STR) merupakan tahapan yang harus dilalui oleh para tenaga kesehatan, khususnya calon perawat dan bidan, agar bisa bekerja. Bagi mereka, Ukom menjadi momok yang cukup menakutkan. Hal ini dikarenakan banyaknya calon perawat dan bidan yang gagal dalam Ukom sehingga tertunda untuk mendapatkan pekerjaan.

Untuk membantu para calon perawat dan bidan se-Indonesia dalam menghadapi Ukom, Rumah Uji Kompetensi Indonesia (RUKI) yang didirikan oleh Brajakson Siokal, fellow Bakrie Graduate Fellowship dari Bakrie Center Foundation, rutin mengadakan Try Out Computer Based Test (CBT) Gratis. Di tahun 2020 ini Try Out CBT gratis telah dilaksanakan sebanyak 2 kali untuk 1000-1500 peserta per gelombangnya.

Melalui wawancara dengan pesan singkat, Muhammad Sholeh selaku Humas RUKI yang juga fellow LEAD Indonesia 2019, menyampaikan bahwa Try Out ini rutin diadakan RUKI mulai tahun 2017. Namun pada tahun 2017, Try Out masih bersifat manual. Mulai 2019, baru lah diadakan Try Out gratis berbasis CBT dengan fitur seperti ujian CBT dari Dirjen Dikti. Untuk persyaratan mendapatkan akses login, peserta yang mendaftar hanya perlu mengikuti akun media sosial RUKI dan mengirim buktinya ke narahubung pendaftaran.

Ketika ditanya mengenai antuasisme peserta, Sholeh mengatakan antusiasme peserta sangat besar sehingga pelaksanaannya pun dibagi menjadi 2 hari guna mengurangi kendala kapasitas server yang terbatas.

“Untuk Try Out di tanggal 15 Juni 2020 kemarin, teman-teman mahasiswa kebidanan antusias sekali. Dalam 3 hari tercatat ada 1270 pendaftar dari seluruh Indonesia. Ini melebihi ekspektasi kami. Hasil kelulusan Try Out juga sangat bagus, hampir 87% dinyatakan lulus dan ada juga yang mendapatkan nilai yang hampir sempurna. Melihat antusiasme peserta, kami rencana akan adakan lagi Try Out CBT gratis untuk calon perawat di pertengahan Juli 2020 ini,” jawab Sholeh.

Bagi para calon perawat dan bidan yang akan mengikuti Ukom dalam waktu dekat ini, Sholeh memberikan beberapa tips.

“Pertama, siapkan mental dan fisik, karena pernah ada peserta yang pintar secara akademis namun tidak lulus karena hilang konsentrasi akibat kelelahan sehabis tugas luar kota. Kedua, kerjakan dengan rileks dan jangan tergesa-gesa, kerjakan soal yang mudah dahulu dan selalu cek ulang. Ketiga, perbanyaklah latihan soal, agar kita terbiasa dengan soal yang akan diujikan. Yang terakhir jangan lupa berdoa dan minta restu orang tua,” kata Sholeh.

RUKI adalah lembaga untuk belajar soal-soal Uji Kompetensi bagi calon perawat dan bidan, baik lulusan D3, D4, ataupun profesi Ners dan jadi bagian dari klaster Pelatihan Uji Kompetensi Perawat di program LEAD Indonesia 2019 yang diinisiasi oleh Bakrie Center Foundation. RUKI didirikan tahun 2017 dengan misi sosial membantu perawat dan bidan menjadi kompeten guna memperoleh Surat Tanda Registrasi. Selain bimbingan gratis, RUKI juga menyediakan bimbingan intensif berbayar (RUKI Express) dengan harga terjangkau dan fasilitas lengkap seperti E-Book Rangkuman materi, Bank Soal, Tips dan Trik dan Try Out CBT tanpa batas. Melalui program LEAD Indonesia, RUKI diharapkan mampu memperluas dampak sosial yang diberikan dalam bidang pelatihan Uji Kompetensi Perawat.

READ MORE

Merajut Asa Anak Jalanan Melalui Pendidikan dan Pemberdayaan Berbasis Lingkungan

 

Kegiatan Pengajaran Tingkat Sekolah Dasar (Dok.Yayasan Indonesia Hijau)

Isu mengenai citra anak jalanan yang lekat dengan kriminalitas, putus sekolah, dan rantai kemiskinan menjadi latar belakang Riha Ahzarina dan rekan-rekannya dari Yayasan Indonesia Hijau mendirikan Rumah Peduli. Rumah Peduli merupakan sekolah informal yang diperuntukan untuk anak-anak jalanan dan anak pemulung dengan tujuan memutus rantai kemiskinan melalui pemberdayaan dan pendidikan. Di Rumah Peduli Riha dan para relawan memfokuskan kegiatan pendidikan untuk sekolah kejar paket B dan C bagi anak-anak yang tinggal di lapak pemulung di Kebagusan, Jakarta Selatan.

Kegiatan sekolah kejar paket juga masuk ke dalam agenda Riha untuk Breakthrough Project (implementasi kegiatan) sebagai pemenang ke 2 program LEAD Indonesia 2019.

Dari hasil wawancara melalui pesan singkat, Riha menceritakan keikutsertaan anak-anak jalanan dan pemulung untuk sekolah di Rumah Peduli  adalah atas inisiatif dari mereka yang ingin sekali tetap bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak walau dalam keterbatasan. Relawan Yayasan Indonesia Hijau di bantu para donatur juga dengan senang hati mendukung pendidikan anak-anak tersebut.

“Selain dukungan donatur berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di Rumah Peduli tak lepas dari peran relawan yang didominasi para mahasiswa dari  kampus-kampus di Jabodetabek,” Riha menambahkan.

Tercatat 10 anak yang dibina berhasil lulus ujian kejar paket B dan C pada bulan April 2020. Dari awal berdirinya di tahun 2017, Rumah Peduli telah meluluskan 35 anak untuk kejar paket B dan C. Untuk proses belajarnya, dibutuhkan kurang lebih 4 bulan dari mulai belajar, persiapan ujian, simulasi ujian sampai dengan ujian akhir.

 

Foto adik-adik saat mengikuti simulasi ujian paket B (Dok.Yayasan Indonesia Hijau)

Selain kegiatan belajar formal, di Rumah Peduli anak-anak jalanan dan pemulung juga diajari membuat kerajinan tangan dari limbah barang bekas. Hasil kerajinan tersebut nantinya dijual dan uang yang dihasilkan dibagikan untuk uang saku anak-anak tersebut.
Tak hanya anak-anak, pelatihan pembuatan kerajinan tangan dari limbah barang bekas ini juga melibatkan ibu-ibu yang tinggal di lapak pemulung. Riha juga membantu pemberdayaan para ibu agar lebih mandiri secara ekonomi.

“Biasanya kalau ibu-ibu ini terlibat dalam pembuatan kerajinan tangan ketika ada order pembuatan suvenir kerajinan dalam jumlah banyak,” cerita Riha.

Kemudian tim BCF menanyakan apa tantangan dan suka duka yang dialaminya selama membina Rumah Peduli.

“Tantangannya lebih menyiapkan kesehatan fisik untuk bolak-balik mengurus keperluan ujian terkait dengan data diri adik-adik. Kemudian untuk sukanya, Alhamdulillah sangat bangga melihat semangat adik-adik untuk melanjutkan pendidikan, sehingga kami para relawan dan donatur pun ikut semangat memberikan dukungan kepada adik adik walaupun harus menguras waktu dan tenaga di dalam persiapan ujian mereka.” Ujar Riha.

READ MORE

Kisah Rini Indiriani Bantu Perawat di Timur Indonesia Lulus Uji Kompetensi

 

Rini saat memberikan workshop pelatihan(Dok.Pribadi)

Pelatihan Uji Kompetensi Perawat menjadi salah satu klaster kategori yang dilombakan dalam program LEAD Indonesia 2019. Dari klaster ini, Rini Indriani muncul sebagai pemenang ke 3. Rini yang juga merupakan ASN Perawat Ahli Pertama unit UGD, UPTD Puskesmas Wonggeduku, Kab. Konawe, Sulawesi Tenggara, mulai memberikan pelatihan gratis sejak Januari 2018 dengan menjadi mentor di Rumah Uji Kompetensi Indonesia (RUKI). Awalnya ia juga peserta bimbingan RUKI, setelah lulus Rini diajak bergabung menjadi Tim Work RUKI untuk sharing ilmu dan pengalamannya. Ia makin tergerak karena melihat banyak rekan sejawatnya tidak bisa bekerja di RS karena terkendala belum memiliki Surat Tanda Regitrasi (STR) yang diperoleh setelah lulus Ujian Kompetensi. Berkat ketekunan dan kinerjanya, kini ia pun dipercaya untuk menjadi koordinator RUKI wilayah Sultra,Sulut, Maluku, dan Papua.

Rini bersama Tim Work RUKI terus rutin memberikan pelatihan melaui aplikasi Telegram, terutama menjelang jadwal Ujian Kompetensi yang diadakan 3 kali dalam setahun. Kini jaringan peserta pelatihan RUKI di aplikasi Telegram beranggotakan sekitar 12.000 orang dari seluruh Indonesia. Untuk bisa menjaga kualitas bimbingan, Rini dan Tim Work RUKI dibawah arahan ketua RUKI Bapak Brajakson Siokal, membagi tugas dan tanggung jawab perorangnya serta membagi jadwal bimbingan per minggunya.

“Saya dan tim lainnya mendapatkan waktu bimbingan 2 kali pertemuan/minggu (kelas umum & Express) dengan membahas 5-7 soal plus materi bimbingan.” Info dari rini mengenai pembagian tugas di RUKI.”

Kini di masa Breakthrough Project (implementasi kegiatan) dari program LEAD Indonesia 2019, Rini sedang sibuk memberikan pelatihan untuk Uji Kompetensi yang diselenggarakan bulan Juli 2020 oleh Dirjen Dikti. Selain pelatihan, Rini juga disibukan dengan kegiatan promosi RUKI, perumusan soal, menjalin kerjasama pelatihan berbayar dengan perguruan tinggi, serta melakukan advokasi kepada PPNI dan pihak swasta agar kegiatan RUKI terus mendapat dukungan. Tercatat, Rini telah berhasil menjalin kerjasama dengan Poltekes Kemenkes Kendari, Universitas De La Salle Manado, Universitas Sariputra Tomohon, dan Akper PPNI Kendari untuk memberikan jasa pelatihan intensif bagi mahasiswa di kampus tersebut.

Rini bersama Tim Work RUKI Sulawesi Tenggara (Dok.Pribadi)

Melalui pesan singkat, Rini bercerita kepada tim BCF mengenai tantangan dan suka duka saat memberikan pelatihan gratis Uji Kompetensi Perawat.

“Sebagai relawan dan juga Tim Work RUKI, saya punya tugas dan tanggung jawab meningkatkan kualitas bimbingan. Saya ditantang untuk terus membaca ilmu terbaru dalam dunia keperawatan guna meningkatkan materi bimbingan. Penyusunan soal harus mengikuti standar yang telah ditetapkan secara nasional yang tiap periodenya mengalami perubahan. Kemudian saya juga harus bagi waktu antara mebimbing dan bekerja sebagai ASN.”

Suka dan duka dalam membimbing banyak peserta tentunya menjadi makanan sehari-hari bagi Rini. Banyaknya peserta yang tergabung dalam grup Telegram membuat dia harus bisa membagi peprhatiannya ke banyak peserta.

“Sukanya, saya mudah menjangkau rekan sejawat diseluruh Indonesia. Saya bisa mengetahui apa saja kendala yang dihadapi rekan sejawat ketika tidak lulus. Informasi kondisi di lapangan juga mudah saya ketahui karena anggota tersebar dimana-mana. Dukanya, terkadang saya harus menjelaskan berulang pada yang belum paham. Saya juga harus menjadi penengah ketika ada silang pendapat antar peserta. Juga kendala jaringan internet yang tak stabil,” cerita Rini kepada tim BCF.”

Tim BCF pun bertanya kepada Rini adakah cerita mengenai peserta pelatihan yang membuatnya berkesan selama tergabung di RUKI.

“Banyak cerita haru dan berkesan yang saya temui. Salah satunya dari peserta yang usianya 50an dan gagal UKOM lebih dari 5 kali. Namun karena tekadnya kuat, peserta tersebut masih semangat terus untuk belajar dan tak kalah dengan peserta yang usianya 20an. Peserta lain bahkan memanggilnya “oma” saat bimbingan. Alhamdulillah, peserta tersebut telah lulus dan memiliki STR,” cerita Rini.

Menutup ceritanya, Rini berharap semoga peserta RUKI yang telah lulus dan kompeten (memilki STR) bisa mendapatkan pekerjaan impian dan menjadi perawat profesional yang memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang membutuhkan.

READ MORE

Menengok Kiprah Relawan Pendamping Pasien TBC di Tengah Pandemi Covid-19

Ancaman virus corona menjadi tantangan tersendiri bagi Wahriyadi dan para relawan pendamping pasien TBC di Kota Makassar. Rentannya imunitas para pasien membuat mereka perlu melakukan pendekatan khusus dalam pendampingan di tengah pandemi Covid-19 ini. Secara tidak langsung, mereka harus ikut menjamin pasien TBC yang mereka dampingi agar tetap aman dari penularan Covid-19.

Berangkat dari hal tersebut, Wahriyadi, Kordinator Program TB Care Aisyiah Makassar sekaligus pemenang LEAD Indonesia 2019, menginisiasi kegiatan retraining peningkatan skill relawan terkait pendampingan pasien TBC di tengah pandemi Covid-19. Kegiatan yang juga menjadi agenda dari Breakthrough Project LEAD Indoneia 2019 ini, dilaksanakan pada tanggal 1-2 Mei 2020 di Gedung Serbaguna Aisyiyah, Makassar. Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 20 orang relawan yang dibagi dalam 4 kelas sambil tetap menerapkan physical distancing.

Adapun materi yang diberikan ialah seputar pengenalan covid-19 serta panduan pencegahan dan protokol kesehatan untuk penyakit virus dan infeksi TBC. Materi ini diberikan oleh dr. Muzdalifah yang merupakan dokter dari Muhammadiyah Command Covid Center (MCCC) Sulawesi Selatan. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi bekal para relawan dalam melakukan penyuluhan ke masyarakat dan pasien TBC yang juga terdampak Covid-19.

 

Homevisit ke Sejumlah Pasien TBC

Sebagai bentuk tindaklanjut dari retraining yang telah dilakukan, di tanggal 3-8 Mei 2020 Wahriyadi bersama para relawan melakukan homevisit atau kunjungan ke rumah pasien TBC guna memberikan edukasi terkait TBC dan Covid-19. Edukasi tidak hanya diberikan kepada pasien dan keluarganya saja, tapi juga diberikan kepada masyarakat luas.

Selain melakukan penyuluhan door to door, relawan juga membagikan 250 paket sembako kepada para pasien untuk membantu pemenuhan gizi di tengah pandemi. Diharapkan melalui kegiatan ini masyarakat menjadi teredukasi sehingga terhindar dari penularan Covid-19 dan mengurangi beban ekonomi mereka akibat pandemic.

 

Pembagian Parsel kepada Para Relawan

Sebagai bentuk apresiasi atas kiprah para relawan, pada 21 Mei 2020 bertempat di Gedung PUDAIS Makassar, TB Care Aisyiyah Sulawesi Selatan memberikan paket hadiah hari raya kepada 20 orang relawan.

Menurut Wahriyadi, apresiasi ini sebagai bentuk rasa terima kasih kepada kader-kader atau relawan yang tetap semangat bekerja dalam menemukan kasus dan mendampingi pasien walaupun di tengah situasi pandemi Covid-19.

“Walaupun sama-sama terkena dampak Covid-19, kehadiran relawan sangat berarti untuk memberi support, baik dukungan motivasi, edukasi, ataupun nutrisi kepada para pasien agar tetap menjalani pengobatan. Para kader tetap melakukan homevisit sambil membagikan paket sembako yg didapatkan dari hasil fundrising ke beberapa lembaga selama pandemi Covid-19 terutama pada bulan suci Ramadhan,” Kata Wahriyadi.

“Semoga kegiatan yang telah dilakukan ini dapat merawat semangat dan motivasi para relawan untuk terus menebar kebaikan,” ujarnya lagi.

READ MORE

Pengumuman pemenang LEAD 2019

Terima kasih kepada keduapuluh fellow yang telah mengikuti serangkaian proses Lead Indonesia 2019 mulai dari sesi workshop, mentoring, hingga penggalangan dana. Setelah melalui rangkaian kegiatan tersebut berdasarkan akumulasi penilaian dari tim juri, tim mentor, dan tim BCF berikut kami umumkan Top Three LEAD Indonesia 2019 dan Best Cluster LEAD Indonesia 2019. Selamat kepada para pemenang 1,2, dan 3 serta Klaster Pendamping Pasien TBC sebagai Best Cluster! Semoga apa yang diraih hari ini dapat terus menebar manfaat bagi sesama dan lingkungan

READ MORE

PETA : Para Pejuang Tangguh Bagi Penderita TBC Kebal Obat

Dok. Bakrie Center Foundation

Ully Alwiyah didiagnosis mengidap TBC Multi Drug Resistence (Kebal Obat) pada saat usia 28 tahun. Pada usia 10 tahun, Ully pertama kali mengidap TBC. Namun, karena pengobatannya yang tidak tuntas maka ia kembali mengidap TBC pada saat usianya 12 tahun. Pengobatannya pun kembali tidak tuntas, karena sudah merasa sembuh. Pada akhirnya, ia harus menerima kenyataan bahwa ia mengidap TBC MDR, yang tingkatannya lebih parah dari TBC biasa. Virus TBC dalam tubuhnya, sudah tidak dapat dibasmi dengan pengobatan TBC biasa. Selama 2 tahun, Ully harus meminum 15 butir obat setiap hari dan mendapatkan suntikan khusus selama 8 bulan berturut-turut. Saat itu, ia sempat mengalami depresi dan halusinasi karena efek samping pengobatan yang berlangsung cukup lama.

Perjuangannya untuk menuntaskan pengobatan akhirnya berbuah manis. Setelah menjalani pengobatan selama 2 tahun, pada tahun 2011 Ully dinyatakan sembuh total atas TBC yang dideritanya. Sebagai penyintas TBC MDR, Ully ingin memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada para pasien TB MDR. Pada tahun 2012, Ully ikut terlibat dalam paguyuban yang dibentuk oleh para penyintas TBC, yaitu PETA (Pejuang Tangguh). Tahun 2014, PETA resmi menjadi yayasan yang mendampingi para pasien TBC MDR di 5 Kotamadya Jakarta.

Ketua PETA, Ully Alwiyah (Dok. Bakrie Center Foundation)

PETA telah mendampingi sekitar 1.000 pasien TB MDR dengan melibatkan 30 anggota pendamping yang juga merupakan penyintas TBC MDR. Ya, PETA memiliki keunikan yang membedakannya dari LSM TBC pada umumnya. Seluruh anggotanya merupakan penyintas TB MDR yang telah dinyatakan bebas TB. Kontribusi para penyintas TB MDR dalam PETA sungguh menjadi motivasi bagi para pasien yang didampingi. Mereka memiliki harapan untuk sembuh.

Berlokasi di Jalan Rawamangun Muka III, Jakarta Timur, basecamp PETA tak hanya menjadi tempat aktivitas para anggota saja namun juga diperuntukkan sebagai rumah singgah bagi para pasien TB MDR yang sedang menjalani rawat jalan. Lokasi yang dekat dengan RS Persahabatan, memudahkan pasien untuk berobat. Rumah singgah ini juga membantu pasien TB MDR yang memiliki kesulitan ekonomi dengan menyediakan tempat tinggal sementara. Tidak besar, namun cukup layak untuk menampung para pasien TB MDR. Kamar dengan ventilasi udara dan pencahayaan yang baik menjadi hal yang diperhatikan untuk menjaga kondisi kesehatan pasien.

Salah satu pasien yang sedang dirawat dan menempati rumah singgah, yaitu Dewi. Dewi berusia 28 tahun, memiliki dua orang anak. Anak pertamanya berusia 9 tahun dan anak keduanya berusia 2 tahun. Dewi tak hanya mengidap TB MDR, namun ia juga dinyatakan positif HIV. Stigma yang diterimanya sebagai pengidap TB MDR Plus, turut memberatkan proses pengobatannya. Namun, para anggota PETA tetap memberikan bantuan semangat dan motivasi kepada Dewi agar bisa sembuh. Dewi baru menjalani pengobatan selama 4 bulan, dan jelas terlihat ia memiliki semangat hidup yang kuat demi kedua buah hatinya.

Ully menemui Dewi, Pasien TB MDR yang menempati rumah singgah (Dok. Bakrie Center Foundation)

Menebar manfaat sebanyak-banyaknya bagi para pasien TB MDR, menjadi tujuan utama PETA berdiri. Ully Alwiyah merupakan Ketua PETA yang juga menjadi bagian dari jaringan fellow LEAD Indonesia 2019 Bakrie Center Foundation. Kami mengajak lebih banyak #OrangBaik ikut berbagi untuk keberlangsungan organisasi PETA, agar bisa lebih banyak membantu pasien TB MDR lainnya seperti Dewi. Klik di sini untuk #MulaiBerbagi.

READ MORE
  • 1
  • 2