Building Leaders

You are here : Home Indonesian Digest Bakrie Scholars Essays GMO (Genetically Modified Organism)

GMO (Genetically Modified Organism)

Perumusan Masalah


Terkait dengan program studi yang saya tekuni sekarang mengenai bioteknologi, maka pada tulisan ini saya akan membahas mengenai permasalahan yang terkait dengan bioteknologi. Sebelumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai bioteknologi. Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Bioteknologi merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk yang berkualitas. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli telah mulai mengembangkan bioteknologi dengan memanfaatkan prinsip-prinsip ilmiah melalui penelitian. Dalam bioteknologi modern peneliti berupaya dapat menghasilkan produk secara efektif dan efisien. Bioteknologi modern merupakan bioteknologi yang didasarkan pada manipulasi atau rekayasa DNA, selain memanfaatkan dasar mikrobiologi dan biokimia. Salah satu agen mikroorganisme yang dijadikan sebagai inang untuk mendapatkan suatu produk yaitu mikroba.

Indonesia merupakan salah satu kawasan geografis yang memiliki kekayaan hayati yang sangat beranekaragam, yang bila dikelola dengan baik akan memberikan keunggulan kompetitif sebagai pemasok bahan pangan, keperluan industri, dan penyangga lingkungan hidup di planet Bumi ini. Sejumlah tanaman, hewan, dan mikrob, bahkan merupakan organisme asli (indigenous) Indonesia yang seharusnya pantas mendapat perhatian karena lokasi biogeografisnya yang memberikan keunikan dan keuntungan kompetitif. Ironisnya, banyak produk pertanian, peternakan, perikanan, atau agroindustri lain tidak kompetitif, yang berakibat pada turunnya kualitas hidup petani Indonesia pada umumnya. Meskipun ada banyak faktor yang terlibat dalam keterpurukan pertanian ini, salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalah strategi untuk meningkatkan produktivitas atau nilai tambah produk pertanian itu sendiri. Pilihan teknologi yang tepat, termasuk Bioteknologi Modern, akan sangat membantu usaha untuk meningkatkan produktivitas pertanian atau pemanfaatan sumber daya hayati sehingga diperoleh sifat-sifat unggul yang lebih kompetitif dari berbagai persepsi. Pengetahuan dan penelitian yang baik tentang Bioteknologi Modern akan memberikan kontribusi penting dalam inovasi atau peningkatan nilai tambah produk-produk pertanian dan industri berbasis biologi lainnya (Suwanto, 2006).

GMO (Genetic Modified Organism) atau biasa disebut dengan produk rekayasa genetika adalah organisme yang  telah mengalami perubahan pada DNA-nya dengan menggunakan suatu teknologi yang disebut dengan bioteknologi modern sehingga menghasilkan suatu organisme atau produk yang berbeda dengan produk alamiahnya sehingga memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan produk alamiahnya. Pada saat ini penggunaan GMO’s atau Genetically Modified Organism telah meluas dikarenakan adanya beberapa kelebihan yang didapatkan pada produk ini. Beberapa produk pertanian yang merupakan GMO’s bisa tahan terhadap hama, tahan terhadap berbagai penyakit, penggunaan pestisida yang lebih sedikit, mempunyai penampilan yang menarik, mempunyai nutrisi yang lebih banyak jika dibandingkan dengan produk yang asli, dan lain sebagainya. Beberapa kelebihan dari GMO’s tersebut diklaim dapat mengatasi masalah populasi dan pangan yang dihadapi oleh dunia. Namun dibalik kelebihan tersebut terdapat kekurangan pada produk GMO’s yaitu salah satunya dapat menganggu keseimbangan lingkungan. Sehingga masih ada pro dan kontra dalam permasalahan mengenai GMO di Indonesia.

Analisa

Transaksi gen itu sendiri mungkin sudah berlangsung sejak adanya sel (unit kehidupan) awal dan merupakan bagian dari evolusi biosfer planet bumi ini. Sebagai contoh, bumi kita yang kaya oksigen dan berlapis ozon ini adalah akibat revolusi biologi besar yang terjadi saat sianobakter (ganggang hijau biru) menemukan cara untuk menguraikan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen sekitar 3 biliun tahun yang lalu. Mekanisme yang menjadi dasar utama pemanenan energi cahaya, yang dikenal sebagai Fotosintesis Oksigenik ini, merupakan hallmark kemampuan genetik sianobakter untuk melakukan mekanisme monumental yang secara drastis mengubah kondisi bumi yang tadinya tidak beroksigen (anaerobik) menjadi aerobik. Nenek moyang sel yang menjadi calon sel tanaman memanfaatkan kemampuan luar biasa dari proses fotosintesis melalui akuisisi bahan genetik sianobakter (Battacharya and Medlin, 1998). Akibatnya terbentuklah “organisme transgenik” yang kita kenal sebagai tanaman, yang merupakan salah satu produsen utama oksigen di bumi. Tanaman modern, dengan kloroplas dan mitokondrianya, merupakan contoh mahkluk transgenik hasil transaksi gen inter-Domain (Woese et al., 1990) yang mungkin telah berlangsung sejak adanya sel eukariot awal di planet bumi ini.

Transaksi gen merupakan kegiatan rutin yang berlangsung sinambung sepanjang sejarah evolusi kehidupan dan dapat memberikan dampak perubahan besar bahkan pada kondisi atmosfer bumi. Dengan demikian organisme hasil modifikasi genetik ((Genetically Modified Organisms = GMOs)) bukanlah hal yang baru. Lalu, apanya yang baru dan menjadi perhatian orang adalah cara melakukan modifikasi bahan genetiknya. Saat ini pengertian GMO atau organisme transgenik telah direduksi menjadi: Organisme hasil modifikasi bahan genetik melalui Teknologi DNA. Yang melalui persilangan, mutasi kimia, atau fisika tidak dikategorikan sebagai GMO (Suwanto, 2006).

Permasalahan mengenai produk GMO bisa mengganggu keseimbangan lingkungan bisa diatasi dengan cara mencampur antara produk yang non GMO dengan produk GMO pada saat ditanam dalam satu lahan. Sehingga hal tersebut dapat mencegah resistensi yang bisa ditimbulkan pada beberapa makhluk hidup dan keseimbangan lingkungan masih tetap terjaga.

Rekomendasi

Sebagian besar aspek bioteknologi untuk produk yang bernilai strategis bahkan tidak mudah ditransfer, baik itu karena alasan teknis, ketersediaan sumberdaya manusia, atau karena alasan ekonomis atau politis. Sayangnya, penelitian dasar yang strategis dan berkelanjutan (sustainable) di Indonesia masih sangat sedikit. Selain itu, keberhasilan komersialisasi produk bioteknologi modern juga sangat tergantung pada persepsi masyarakat, dan dukungan pemerintah (Suwanto, 2006). Oleh karena itu, pemerintah dan swasta perlu bersinergi dalam memberikan dukungan terhadap penelitian dasar yang strategis, serta implementasi kepastian hukum untuk produk Bioteknologi Modern. Melek sains (scientific literacy), khususnya tentang Bioteknologi Modern, perlu dipaparkan sejak dini secara obyektif sehingga masyarakat dapat menentukan pilihannya dari paparan informasi yang memadai. Selain itu, perlu adanya kegiatan seperti penyuluhan yang dilakukan oleh beberapa instansi khususnya dari pemerintah mengenai produk GMO kepada masyarakat.
Untuk kepastian hukum dan dukungan pemerintah terhadap produk Bioteknologi Modern, khususnya produk transgenik, perlu dibuat peraturan berdasarkan data ilmiah yang memadai, atau pertimbangan rasional yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, sehingga peraturan tersebut tidak hanya melindungi konsumen dari bahaya nyata, tetapi juga memungkinkan konsumen untuk memanfaatkan produk transgenik dan teknologi yang mendasarinya secara maksimal.

 

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor