Building Leaders

You are here : Home Indonesian Digest Bakrie Scholars Articles Tenaga Kerja di Banyak UKM Otomotif Bekasi, Kok Bukan Penduduk Lokal?

Tenaga Kerja di Banyak UKM Otomotif Bekasi, Kok Bukan Penduduk Lokal?

Penetapan kawasan industri di Kabupaten Bekasi yang telah dimulai sejak tahun 1990-an memberikan berbagai dampak positif terhadap pertumbuhan wilayah ini. Sejak dibangunnya kawasan-kawasan industri di Kabupaten Bekasi, memberikan kesempatan terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah ini melalui kedatangan industri-industri besar baik PMA maupun PMDN.

Keberadaan industri-industri besar tersebut memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal baik dalam bentuk munculnya kegiatan ekonomi di berbagai sektor yang menunjang kegiatan industri besar dan semakin besar kesempatan bekerja melalui penambahan lapangan pekerjaan. Industri otomotif merupakan salah satu sektor industri yang juga menggiurkan bagi perkembangan ekonomi lokal. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa industri otomotif mampu menciptakan keterkaitan mata rantai industri yang cukup besar antara industri besar, industri menengah, dan industri kecil. Salah satu keterkaitan mata rantai tersebut dalam bentuk hubungan input-output dimana industri yang lebih kecil menyuplai barang dan jasa sebagai bahan baku proses produksi industri besar. Berdasarkan hal tersebut, semakin banyaknya UKM-UKM otomotif yang tumbuh di Kabupaten Bekasi sehingga menyediakan lapangan pekerjaan. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh penduduk lokal dalam berpartisipasi sebagai tenaga kerja. Akan tetapi hingga saat ini, tingkat penyerapan tenaga kerja lokal di UKM otomotif Kabupaten Bekasi masih rendah. Adanya kesenjangan antara kemauan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh UKM serta yang dimiliki oleh penduduk lokal dapat menjadi penyebab rendahnya penyerapan tenaga kerja ini.


Peluang Lapangan Pekerjaan di UKM Otomotif

Seiring berkembangnya jaman, telah terjadi perubahan karakteristik proses produksi pada industri otomotif dimana pada awalnya proses produksi dilakukan oleh satu perusahaan tunggal dari awal bahan baku hingga menjadi kendaraan (era Fordism). Akan tetapi dalam rangka efisiensi produksi, saat ini proses produksi dilakukan oleh bermacam-macam perusahaan melalui spesialisasi tertentu yang saling terintegrasi antara industri besar dengan industri-industri yang lebih kecil (era Post-Fordism). Dengan perubahan sistem produksi ini, industri otomotif memiliki keterkaitan mata rantai produksi yang panjang sehingga mampu memberikan multipier effect yang pada akhirnya mengembangkan perekonomian lokal. Keberadaan industri-industri besar otomotif di Kabupaten Bekasi memberikan kesempatan berkembangnya industri-industri kecil dan menengah (UKM) yang memiliki keterkaitan mata rantai produksi berdasarkan sistem hirarki tertentu. Industri-industri kecil dan menengah tersebut dikenal dengan istilah vendor, anak perusahaan, ataupun subkon yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal.

Meskipun demikian, karakteristik UKM otomotif berbeda dengan industri-industri besar dari segi sistem produksi maupun sistem manajemen perusahaan. UKM memiliki sistem manajemen dan produksi yang lebih sederhana dibandingkan industri besar sehingga berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja yang diserap tidak sebanyak industri besar. Tingkat upah dan jaminan kesejahteraan bagi tenaga kerja juga tidak setinggi pada industri besar. Akan tetapi berdasarkan keterbatasan tersebut, peluang berkembangnya UKM otomotif yang cukup pesat mampu memberikan kesempatan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal di Kabupaten Bekasi.

Kompetensi Tenaga Kerja yang Dibutuhkan di UKM Otomotif

Seperti halnya pada industri besar, penyerapan tenaga kerja di UKM otomotif terjadi ketika tenaga kerja mampu memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Berbagai kualifikasi tersebut dapat dibedakan berdasarkan tiga hal yaitu kompetensi kognitif (pengetahuan), kompetensi fungsional (keterampilan), dan kompetensi sosial (sikap dan perilaku) (Deist & Winterton, What is Competence?, 2005). Ketiga hal tersebut menjadi dasar dalam melihat kebutuhan tenaga kerja di UKM sehingga dapat dibandingkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh penduduk lokal apakah terjadi kesesuaian atau tidak.

Kompetensi kognitif biasanya dikaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga kerja dan dapat dilihat berdasarkan lulusan pendidikan formal. Berdasarkan hal ini, UKM otomotif sebagian besar membutuhkan tenaga kerja dengan lulusan pendidikan SMK bidang otomotif agar memiliki keterampilan dasar mengenai keteknikan. Akan tetapi, banyak pula UKM otomotif yang tidak mempermasalahkan lulusan pendidikan asalkan tenaga kerja memiliki kemauan untuk belajar. Kompetensi fungsional merupakan kompetensi yang dilihat berdasarkan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Berdasarkan kompetensi fungsional, UKM otomotif membutuhkan tenaga kerja yang kreatif dan bisa mengerjakan berbagai macam pekerjaan (multiple task). Tenaga kerja kreatif yang dimaksud pada level operator yaitu orang yang mampu berpikir bagaimana cara untuk menyelesaikan target pekerjaan dengan waktu yang cepat dan hasil yang baik. Hal ini dikarenakan UKM memiliki target produksi yang cukup padat untuk memenuhi permintaan barang dari industri besar yang tidak memiliki toleransi keterlambatan pengiriman barang. UKM otomotif juga membutuhkan tenaga kerja yang serba bisa karena jenis produksi barang sangat fleksibel dan dinamis sehingga perlu adaptasi yang cepat, tetapi jumlah tenaga kerja terbatas. Dengan kondisi seperti ini, tenaga kerja yang lebih fleksibel atau tidak terspesialisasi pada satu pekerjaan saja lebih diutamakan. Yang terakhir dan tak kalah penting yaitu mengenai kompetensi sosial atau sikap dan perilaku yang dimiliki oleh tenaga kerja. UKM otomotif membutuhkan tenaga kerja dengan etos kerja yang baik serta berbagai sikap lainnya seperti tekun, jujur, mampu bekerja sama, dll. Etos kerja yang dimaksud yaitu tenaga kerja yang memiliki sikap produktif, disiplin, dan tanggung jawab sehingga mencerminkan etos kerja yang baik. Kompetensi sosial menjadi salah satu persyaratan penting dalam merekrut tenaga kerja, bahkan terdapat UKM yang tidak melihat lulusan pendidikan dalam arti dapat merekrut tenaga kerja yang tidak lulus sekolah sekalipun, tetapi memenuhi kriteria kompetensi sosial yang ditetapkan.

Permasalahan dalam Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

Hingga saat ini, sebagian besar tenaga kerja yang bekerja di UKM otomotif memang tidak berasal dari penduduk lokal, melainkan penduduk di luar Kabupaten Bekasi seperti Cianjur, Ciamis, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal ini dapat disebabkan dua hal yaitu penduduk lokal tidak mampu memenuhi kompetensi yang dibutuhkan oleh UKM otomotif dan/atau penduduk lokal tidak memiliki kemauan untuk bekerja di UKM otomotif. Penduduk lokal di Kabupaten Bekasi mungkin tidak mampu memenuhi kompetensi yang dibutuhkan oleh UKM, baik secara kognitif, fungsional, maupun sosial. Secara kognitif misalnya, penduduk lokal memiliki tingkat pendidikan yang rendah setara SD dan SMP sehingga sulit untuk masuk kepada UKM yang mensyaratkan lulusan pendidikan SMK. Begitu pula mungkin terjadi pada kompetensi fungsional dan sosial. Berdasarkan kemauan bekerja penduduk lokal di UKM otomotif, pertimbangan tingkat pendapatan atau upah menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi. Penduduk lokal masih belum banyak yang tertarik bekerja di UKM karena melihat tingkat upah yang lebih rendah dibandingkan industri besar. Dengan orientasi mencari upah setinggi-tingginya, sulit untuk beradaptasi bekerja di UKM otomotif yang biasanya mengharapkan tenaga kerja yang semangat untuk mendapatkan pengalaman dan peningkatan keterampilan disamping upah saja. Gengsi di lingkungan sekitar untuk menjadi buruh di UKM ataupun industri besar juga turut mempengaruhi kemauan bekerja di UKM otomotif. Jika penyerapan tenaga kerja lokal di UKM otomotif tidak mengalami peningkatan, maka keberadaan industri-industri di Kabupaten Bekasi tidak dapat dimanfaatkan oleh penduduk lokal sehingga tidak dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Jumlah pengangguran akan terus bertambah sehingga tingkat kemiskinan tidak berkurang. Selain itu, kecemburuan sosial akan timbul diantara penduduk lokal dan pendatang sehingga mengakibatkan adanya permasalahan sosial. Penduduk lokal hanya akan menjadi “penonton” bagi perkembangan ekonomi di wilayahnya sendiri, sedangkan yang merasakan manfaatnya yaitu penduduk yang bermigran ke Kabupaten Bekasi.

Dengan berbagai permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Provinsi Jawa Barat dapat memberikan kebijakan dan arahan program yang mampu meningkatkan kemampuan dan kemauan penduduk lokal untuk bekerja di UKM otomotif. Terkait permasalahan mengenai kemampuan, Pemerintah dapat memberikan akses terhadap perkembangan kompetensi kognitif penduduk lokal melalui dorongan untuk bersekolah di SMK, maupun memberikan pelatihan/kursus keterampilan bidang otomotif. Sedangkan untuk kompetensi fungsional dan sosial, Pemerintah dapat melaksanakan berbagai program yang berkaitan dengan perubahan perilaku penduduk lokal melalui pendekatan sosial. Dengan adanya upaya tersebut, diharapkan tingkat penyerapan tenaga kerja lokal di UKM otomotif dapat semakin meningkat sehingga pada akhirnya dengan adanya kawasan industri dan perkembangan ekonomi akibat industri dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal di Kabupaten Bekasi.

 

Mahasiswa Penerima Beasiswa Bakrie Center Foundation 2012, Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, KK Perencanaan Wilayah dan Perdesaan, SAPPK – ITB